Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa memutuskan menunda pengaktifan bond stabilization fund (BSF) dan memilih memanfaatkan kas pemerintah serta Saldo Anggaran Lebih (SAL) untuk menjaga stabilitas pasar obligasi.
Purbaya menjelaskan, BSF pada dasarnya disiapkan sebagai instrumen bantalan ketika perekonomian menghadapi tekanan berat atau kondisi krisis. Namun, menurut dia, kondisi ekonomi Indonesia saat ini masih relatif stabil sehingga belum membutuhkan skema tersebut.
BACA JUGA:Jaga Rupiah, Purbaya Mau Borong SBN di Pasar Sekunder
BACA JUGA:Paket Stimulus Ekonomi Baru Mulai Jalan 1 Juni 2026, Ini Bocorannya
“Mungkin belum kami aktifkan bond stabilization fund, tapi stabilisasi harga bond dulu. Beda rupanya, kalau bond stabilization fund itu kalau krisis, baru kita panggil semuanya. Ini kan nggak krisis,” kata Purbaya dalam media briefing, Senin (11/5/2026).
Sebagai alternatif, pemerintah akan memaksimalkan instrumen yang sudah tersedia, termasuk pengelolaan kas negara dan SAL, untuk menjaga stabilitas harga Surat Berharga Negara (SBN).
Purbaya menilai kedua instrumen tersebut masih cukup kuat untuk mengendalikan pergerakan pasar obligasi tanpa perlu melibatkan lembaga lain.
Karena itu, pemerintah belum melihat kebutuhan untuk mengikutsertakan institusi seperti PT Sarana Multi Infrastruktur (Persero) atau Indonesia Investment Authority (INA) dalam langkah stabilisasi pasar obligasi.
“Kita kelola kas saja supaya bond lebih stabil. Yang kita pakai bisa SAL, bisa kas kita. Jadi, nanti unit perbendaharaan saya akan lebih aktif, dia akan seperti perbendaharaan di sektor swasta,” ujarnya.
Langkah tersebut menunjukkan pemerintah saat ini lebih memilih pendekatan pengelolaan likuiditas internal untuk menjaga stabilitas pasar keuangan di tengah dinamika global yang masih berlangsung.



/2025/03/06/38420056.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3720718/original/066582600_1639712853-BSI-Pasar3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4035208/original/006769000_1653635186-pinjol_1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5196555/original/022471000_1745413931-20250423-Perkotaan-ANG_2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/976570/original/042706700_1441279137-harga-emas-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5672155/original/069131700_1778470697-Superbank_menghadirkan_Kartu_Untung.jpeg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5579577/original/079405700_1778057267-7.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4875742/original/093303000_1719401842-20240626-Rupiah_Melemah-ANG_5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1954437/original/003823600_1519994760-20180302-Dolar-AY1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4826292/original/095830100_1715176226-fotor-ai-20240508204955.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5186932/original/075074000_1744629098-20250414-Harga_Emas_Batangan-AFP_5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3352150/original/028984100_1610959709-20210118-Emas-Antam-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5542609/original/067408900_1774947977-WhatsApp_Image_2026-03-31_at_14.15.23.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/781851/original/087607700_1418807496-nickel.jpg)