Jakarta – Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menegaskan rencana impor bubuk nikel dari Filipina menjadi pembahasan antarpelaku usaha atau business-to-business (B2B). Pembahasan ini berlangsung selama KTT ASEAN.
“Dalam pembahasan bilateral antar pimpinan negara tidak ada. Yang ada itu komunikasi antara pengusaha Indonesia dan pengusaha Filipina,” kata Bahlil kata di Kementerian ESDM, Senin (11/5/2026).
BACA JUGA:DPR Filipina Sahkan Pemakzulan Wapres Sara Duterte, Ini 4 Pasalnya
BACA JUGA:Prabowo Dorong Penyelesaian Damai Thailand-Kamboja di KTT ASEAN
Ia menilai kerja sama bisnis semacam itu merupakan hal yang wajar selama tetap memperhitungkan nilai ekonominya secara matang. Apalagi, Indonesia saat ini tengah mendorong hilirisasi dan industrialisasi di sektor nikel.
Menurut Bahlil, Indonesia memiliki sekitar 43% cadangan nikel dunia, sementara Filipina diperkirakan menguasai sekitar 15% hingga hampir 20%. Jika digabungkan, kedua negara menguasai lebih dari 60% cadangan nikel global.
“Filipina punya bahan baku, tetapi industrinya belum berkembang seperti Indonesia. Jadi ruang kerja sama tetap ada dan enggak masalah,” ujarnya.
Sebelumnya, Menko Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengungkapkan, Indonesia dan Filipina resmi menyatukan kekuatan untuk membangun poros nikel yang tak tergoyahkan di kawasan Asia Tenggara.
Terlihat dari penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) Strategic Nickel Industry Development Cooperation yang diteken oleh Asosiasi Penambang Nikel Indonesia (APNI) dan Philippine Nickel Industry Association (PNIA) di sela-sela rangkaian KTT AECC ke-27 di Cebu, Filipina.



/2025/03/06/38420056.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4035208/original/006769000_1653635186-pinjol_1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5196555/original/022471000_1745413931-20250423-Perkotaan-ANG_2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/976570/original/042706700_1441279137-harga-emas-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5672155/original/069131700_1778470697-Superbank_menghadirkan_Kartu_Untung.jpeg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5579577/original/079405700_1778057267-7.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4875742/original/093303000_1719401842-20240626-Rupiah_Melemah-ANG_5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1954437/original/003823600_1519994760-20180302-Dolar-AY1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4826292/original/095830100_1715176226-fotor-ai-20240508204955.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5186932/original/075074000_1744629098-20250414-Harga_Emas_Batangan-AFP_5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3352150/original/028984100_1610959709-20210118-Emas-Antam-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5542609/original/067408900_1774947977-WhatsApp_Image_2026-03-31_at_14.15.23.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5547859/original/095901800_1775473870-dpr7.jpg)