Jakarta – Pemerintahan Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump mulai mengembalikan sekitar US$ 100 miliar atau sekitar Rp 1.789 triliun (asumsi kurs Rp 17.894 per dolar AS) kepada para importir. Dana tersebut merupakan pengembalian tarif impor yang sebelumnya dipungut berdasarkan kebijakan Liberation Day, namun kemudian dibatalkan oleh Mahkamah Agung AS.
Berdasarkan dokumen yang diajukan pemerintah AS ke Pengadilan Perdagangan Internasional AS (U.S. Court of International Trade) dikutip dari CNBC, Kamis (6/8/2026), nilai pengembalian tersebut setara sekitar 60% dari total US$ 166 miliar yang berhasil dihimpun pemerintah melalui kebijakan tarif tersebut sepanjang 2025.
BACA JUGA:Presiden Iran Ungkap Sulit Berkomunikasi dengan Mojtaba Khamenei
BACA JUGA:Kemenangan Abdul El-Sayed Guncang Partai Demokrat AS
BACA JUGA:Abdul El-Sayed Selangkah Lebih Dekat Jadi Senator Muslim Pertama AS
Tarif itu sebelumnya diberlakukan Donald Trump menggunakan International Emergency Economic Powers Act (IEEPA) sebagai dasar hukum untuk mengenakan bea masuk terhadap berbagai produk impor.
Namun, pada akhir Februari 2026, Mahkamah Agung AS memutuskan bahwa IEEPA tidak memberikan kewenangan kepada presiden untuk menerapkan tarif impor tersebut. Sekitar dua pekan setelah putusan itu, Hakim Federal Richard Eaton memerintahkan pemerintah mengembalikan seluruh tarif yang telah dipungut kepada para importir.
Meski demikian, Trump tetap mempertahankan pandangannya bahwa kebijakan tarif memberikan manfaat besar bagi perekonomian AS.
Tarif telah memberikan hasil yang luar biasa. Kami telah mengumpulkan ratusan miliar dolar. Mahkamah Agung memang memberi kami sedikit hambatan, tetapi kami tetap diizinkan melakukannya dengan cara yang berbeda, kata Trump dalam wawancara dengan Fox News.


/2016/11/25/51215106.jpg)
/2024/09/01/577969006.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5196555/original/022471000_1745413931-20250423-Perkotaan-ANG_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315064/original/025010300_1785825907-WhatsApp_Image_2026-08-04_at_09.49.30.jpeg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/1043408/original/005104300_1446622303-20151104-OJK-AY-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3337097/original/098406000_1609328704-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9317153/original/066639800_1786004236-WhatsApp_Image_2026-08-06_at_14.42.05.jpeg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309011/original/063278500_1785214678-ChatGPT_Image_Jul_28__2026__07_13_04_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5472770/original/094808400_1768375318-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3271750/original/055065600_1603102549-20201019-Harga-Emas-Hari-Ini-Stabil-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4805342/original/023824600_1713432003-20240418-Kenaikan_Harga_Emas-HER_4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6998518/original/060608900_1779768813-AP26142827392886.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9313338/original/051092900_1785634551-ChatGPT_Image_Aug_2__2026__08_35_29_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316602/original/067209500_1785976330-dims.apnews.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309010/original/038477600_1785214604-ChatGPT_Image_Jul_28__2026__11_55_54_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9313343/original/089462800_1785635723-q1-glow.jpg)