Jakarta – Menteri Keuangan (Menkeu) Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan pemerintah belum menetapkan lokasi kawasan Pusat Finansial Internasional Indonesia (PFII). Pemerintah akan memilih lokasi berdasarkan kualitas proposal, kesiapan infrastruktur, efisiensi biaya bagi negara, serta daya tarik bagi investor asing.
Purbaya menyatakan, sejumlah lokasi telah diusulkan, seperti Bali Utara, KEK Kura-Kura Bali, dan KEK Sanur. Namun, pemerintah masih menunggu proposal yang paling matang sebelum mengambil keputusan sesuai amanat Undang-Undang PFII.
BACA JUGA:Purbaya: APBN Tetap Ekspansif, S&P Pertahankan Peringkat Kredit Indonesia
BACA JUGA:Cek Fakta: Hoaks, Gubernur Sherly Dukung Menkeu Purbaya Soal Bantuan Dana Pensiunan
BACA JUGA:Realisasi Belanja APBN 2026 Tembus Rp 1.656 Triliun pada Semester I
“Kita akan lihat yang paling masuk akal, yang paling cepat bisa dijalankan, yang paling murah cost-nya buat negara, dan yang paling bisa mendatangkan investor asing atau orang kaya datang menaruh uang di situ, itu yang akan kita pilih,” kata Purbaya dalam konferensi pers APBN Kita, di Kementerian Keuangan, Selasa (21/7/2026).
Purbaya menegaskan keputusan penetapan lokasi tidak didasarkan pada preferensi pribadi Menteri Keuangan. Menurut dia, proses seleksi akan dilakukan oleh tim yang bertugas menilai seluruh usulan agar menghasilkan pilihan yang optimal.
Ia menjelaskan keberadaan suatu wilayah sebagai Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) tidak otomatis menjadi penghalang. Apabila diperlukan, status KEK dapat diubah sehingga tidak terjadi tumpang tindih dengan kawasan PFII.
Bukan preferensi saya pribadi. Nanti ada tim yang menilai itu supaya hasilnya optimal. Yang penting tidak boleh double, jadi tidak masalah,” ujarnya.
Purbaya juga memastikan tidak akan terjadi benturan regulasi apabila kawasan PFII ditetapkan di lokasi yang sebelumnya berstatus KEK. Menurut dia, setelah suatu wilayah ditetapkan sebagai kawasan PFII, maka ketentuan dalam Undang-Undang PFII akan berlaku di kawasan tersebut.



/2026/04/08/2106434271.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296727/original/008242400_1784022507-3fa60472-8dcd-43de-8f2d-dc9c188e0f52.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4971211/original/002589400_1729136232-IMG_5738.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3552343/original/069953600_1629981833-clay-banks-XvS-uKUoUao-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3520932/original/054634300_1627274266-FOTO_000.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9291645/original/096933900_1783571295-IMG_5380.jpeg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5450574/original/027965600_1766147761-Kepala_Eksekutif_Pengawas_Perbankan_OJK__Dian_Ediana_Rae.jpeg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/2053635/original/071518800_1522820303-20180404-BI-MER-AB2a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3181744/original/039116300_1594892567-20200716-Rupiah-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4980632/original/088675900_1729925953-3c4be2dd-02e9-4dde-98e4-1b2a557f2b63.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4659718/original/012191600_1700712502-kanchanara-3ESepqQ5Yf0-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5076500/original/004014500_1735885889-000_32XK6HY.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5111034/original/031563900_1738033947-AP_Photo-Ben_Curtis.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5133405/original/8100_1739534500-DALL__E_2025-02-14_19.00.12_-_A_digital_illustration_featuring_various_cryptocurrency_coins__including_Bitcoin__BTC___Ethereum__ETH___Binance_Coin__BNB___Solana__SOL___and_meme_coi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1937644/original/001119200_1519626925-1.jpg)