Jakarta – Industri makanan dalam negeri menghadapi tekanan serius akibat kelangkaan bahan baku kemasan yang dipicu disrupsi rantai pasok global. Kondisi ini tak lepas dari ketidakpastian geopolitik yang berdampak pada distribusi bahan berbasis minyak bumi, komponen utama dalam produksi kemasan.
Direktur PT Mega Global Food Industry, Richard Cahadi, mengatakan bahwa situasi geopolitik saat ini menciptakan tantangan ganda bagi pelaku usaha, mulai dari ketidakpastian hingga keterbatasan pasokan bahan baku.
BACA JUGA:Industri Kosmetik dan Logistik Wajib Kantongi Sertifikat Halal Mulai 18 Oktober 2026
BACA JUGA:Emiten Ini Siap Cetak Tenaga Kerja Terampil Penuhi Kebutuhan Industri Pertambangan
Kelangkaan bahan kemasan menjadi persoalan krusial karena berpengaruh langsung terhadap keberlangsungan produksi. Tanpa kemasan, produk yang telah dihasilkan tidak dapat dipasarkan, sehingga menghambat seluruh rantai bisnis.
“Sekarang rekan-rekan media pasti semua tahu bahwa kita dihadapkan dengan kelangkaan bahan kemas. Bahan bakunya dari plastik minyak bumi gitu. Yang dimana rantai pasoknya memang terdisrupsi,” ujar Richard dalam acara Kemenkeu Dukung Sektor Padat Karya Dorong Pertumbuhan Ekonomi di Gresik, Jawa Timur, Jumat (17/4/2026).
Untuk mengatasi kondisi tersebut, perusahaan memprioritaskan pengamanan pasokan bahan kemasan, termasuk dengan memastikan ketersediaan dana di tengah perubahan skema pembayaran dari pemasok yang kini cenderung meminta pembayaran di muka. Kesiapan ini juga didukung kolaborasi bersama Lembaga Pembiayaan Ekspor Impor (LPEI) dan Direktorat Jenderal Pengelolaan Pembiayaan dan Risiko (DJPPR) Kementerian Keuangan.
“Karena dengan kelangkaan ini semua supplier minta bayar di depan. Karena kalau kita enggak disupport LPEI dan DJPPR kita pasti akan kesulitan cashflow untuk beli bahan baku dulu gitu,” kata Richard.

/2026/02/14/83493240.jpg)
/2016/10/21/1940321587.jpg)
/2026/02/20/1338691203.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5454884/original/058290100_1766579884-Menhub_Dudy_Purwagandhi-24_Desember_2025.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5496291/original/077826000_1770522944-Presiden_Prabowo_Subianto.jpeg)
/2026/02/18/1288898011.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5559917/original/010467500_1776653079-0ead40ac-e61d-4a73-b8f9-5e7ff2176699.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2832426/original/059440700_1560940276-20190619-Rupiah-Menguat-di-Level-Rp14.264-per-Dolar-AS1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3172732/original/048313800_1594117392-20200707-Harga-Emas-Pegadaian-Naik-Rp-4.000-7.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4721216/original/051913900_1705711229-fotor-ai-2024012073928.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5534487/original/024967600_1773827091-Kabar_Gembira__Uang_Saku_Peserta_Pemagangan_Nasional_Naik_-_3.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2388584/original/053624700_1540094875-2018021-Bayar-Pajak-Kendaraan-Sambil-Berolahraga-di-Kawasan-CFD--angga-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3975039/original/078300400_1648205647-20220325-Harga-emas-pegadaian-naik-ANGGA-4.jpg)