Jakarta – PT Kereta Api Indonesia (Persero) atau KAI mencatat ada 43 titik perlintasan sebidang yang berisiko tinggi. Angka itu sebagian kecil dari total 1.214 titik perlintasan sebidang di seluruh wilayah Indonesia.
VP Corporate Communication KAI, Anne Purba memetakan sebanyak 1.214 titik perlintasan sebidang. Dari situ, terdapat 43 lokasi dengan kategori risiko tinggi, 630 risiko sedang, 538 risiko rendah, serta tiga kategori sangat rendah.
BACA JUGA:Bahan Bakar SAF Wajib Berlaku 2027, Pertamina Perluas Sertifikasi di 5 Lokasi
BACA JUGA:OJK Siapkan 3 Strategi Sektor Keuangan untuk Menopang Ekonomi 2027
BACA JUGA:BI Prediksi Rupiah Menguat ke 17.300-17.800 pada 2027
BACA JUGA:Moscow City Tourism Committee Bidik Turis RI, Tawarkan Wisata Halal
“Pemetaan risiko membuat penanganan dapat disusun berdasarkan kondisi lapangan. Karakter lalu lintas jalan, status perlintasan, lingkungan, dan intensitas perjalanan kereta berbeda pada setiap lokasi,” kata Anne, mengutip keterangan resmi, Senin (21/8/2026).
Risiko keamanan pada perlintasan sebidang ini dinilai perlu jadi perhatian. Lantaran, data UN-Habitat menunjukkan kecelakaan jalan masih merenggut sekitar 3.260 jiwa setiap hari secara global, sementara meningkatnya mobilitas perkotaan menuntut sistem transportasi yang lebih aman, inklusif dan terintegrasi.
KAI tak tinggal diam. Perusahaan menetapkan 190 titik prioritas peningkatan keselamatan perlintasan sebidang pada 2026 di sembilan Daop dan empat Divre. Program ini mencakup gardu, rambu, alat keselamatan dan komunikasi, SDM penjaga perlintasan tersertifikasi, serta tahapan pemasangan pintu perlintasan.
KAI bersama pemangku kepentingan lainnya juga telah menutup 172 lokasi perlintasan sebidang yang masuk target program. “Semakin tinggi intensitas perjalanan, semakin besar kebutuhan terhadap disiplin operasi, pengelolaan risiko, kesiapan SDM, teknologi, infrastruktur, dan kolaborasi di sepanjang jaringan,” tegas Anne.

/2026/05/06/1359504189.jpg)
/2024/03/15/444308376.jpg)
/2025/07/21/1137651184.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4026692/original/020940600_1652928706-Inflasi_Inggris_Melonjak_ke_Puncak_dalam_40_Tahun-AP_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336394/original/078782800_1788159760-3608754e-d6ef-45b9-bd54-e934752df7dd.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4834401/original/078687200_1715874903-WhatsApp_Image_2024-05-16_at_15.35.00.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9313338/original/051092900_1785634551-ChatGPT_Image_Aug_2__2026__08_35_29_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335614/original/003323700_1788006086-07212bc6-043e-4ef8-b108-f59056a20f2d.jpeg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333297/original/017190300_1787741573-gb1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9333300/original/031781600_1787741574-gb3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337830/original/084707200_1788258971-Kinerja_Keuangan_BRI_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337905/original/080023000_1788262588-Foto_1a__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1937629/original/026426200_1519626771-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4983417/original/043664500_1730112269-fotor-ai-20241028174231.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4527216/original/053880700_1691248902-Kripto_9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028255/original/089063500_1732871319-fotor-ai-2024112916722.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/1043408/original/005104300_1446622303-20151104-OJK-AY-2.jpg)