Jakarta – Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Senin (12/5/2026). Mata uang Garuda turun 4 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp 17.386 per dolar Amerika Serikat (AS), dibandingkan penutupan sebelumnya di level Rp 17.382 per dolar AS.
Pelemahan rupiah dipengaruhi sentimen global, terutama meningkatnya ketidakpastian geopolitik setelah pembicaraan antara AS dan Iran dilaporkan menemui jalan buntu. Kondisi tersebut mendorong penguatan dolar AS sekaligus memicu kenaikan harga minyak mentah dunia.
BACA JUGA:Iran Tolak Proposal Damai AS, Rupiah Malah Loyo
BACA JUGA:Strategi Panda Bond dan BSF Bisa Redam Tekanan Rupiah
Analis mata uang Doo Financial Futures, Lukman Leong, menilai tekanan terhadap rupiah masih berasal dari perkembangan negosiasi kedua negara tersebut.
“Rupiah diperkirakan akan melemah seiring dengan menguatnya dolar dan harga minyak mentah dunia menyusul tanda-tanda bahwa pembicaraan antara Amerika Serikat dan Iran menemui jalan buntu,” ujarnya dikutip dari Antara.
Mengutip Sputnik, Iran menolak proposal perdamaian yang diajukan AS karena dianggap memuat tuntutan berlebihan dari Washington. Sementara itu, kantor berita Iran ISNA melaporkan bahwa respons Teheran terhadap proposal AS berfokus pada penghentian perang dan jaminan keamanan pelayaran di Teluk Persia serta Selat Hormuz.
Di sisi lain, Presiden AS Donald Trump menyebut respons Iran terhadap proposal perdamaian tersebut “sangat tak bisa diterima.” Ketegangan ini semakin meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah yang menjadi jalur penting distribusi minyak dunia.



/2024/05/31/2056349972.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5672155/original/069131700_1778470697-Superbank_menghadirkan_Kartu_Untung.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3980732/original/010029000_1648714878-20220331-Laporan-SPT-6.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5588452/original/002047000_1778143074-Menko_Bidang_Perekonomian_Airlangga_Hartarto-7_Mei_2026a.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5405020/original/020294200_1762421931-Kawasan_Industri_Bontang.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5630675/original/004824300_1778228707-Menko_Bidang_Perekonomian_Airlangga_Hartarto-8_Mei_2026.jpeg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5672273/original/039713700_1778475023-sp-2810126.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5219629/original/039640900_1747221144-20250514-Harga_Emas-ANG_1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5028255/original/089063500_1732871319-fotor-ai-2024112916722.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4424749/original/064202100_1683862117-worker-figures-helping-dig-coin-money-dollar-note-background.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5133410/original/3400_1739534894-DALL__E_2025-02-14_19.06.08_-_A_digital_illustration_of_stablecoins__featuring_Tether__USDT___USD_Coin__USDC___and_DAI._The_coins_are_displayed_in_a_futuristic_financial_setting_wi.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/976574/original/043353600_1441279137-harga-emas-6.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3913228/original/031127900_1643028888-24_januari_2022-2.jpg)