Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali tertekan hingga menembus level 17.500 pada perdagangan Selasa, 12 Mei 2026. Deputi Gubernur Senior Bank Indonesia (BI), Destry Damayanti menyebut, tekanan terhadap rupiah dipicu kombinasi faktor global dan domestik yang terjadi secara bersamaan.
Meski demikian, Bank Indonesia memastikan terus hadir di pasar untuk menjaga stabilitas nilai tukar melalui berbagai instrumen intervensi. Destry mengatakan, meningkatnya tensi konflik di kawasan Timur Tengah menjadi salah satu faktor utama yang menekan rupiah. Konflik yang masih berlangsung dengan intensitas lebih tinggi memicu lonjakan harga minyak dunia sekaligus meningkatkan ketidakpastian global.
BACA JUGA:Rupiah Tembus Rp 17.500, Purbaya Serahkan Stabilisasi ke BI
BACA JUGA:Junanto Herdiawan Resmi Jadi Kepala BI Jawa Barat
BACA JUGA:Bank Indonesia dan Bank Negara Malaysia Perkuat Kerja Sama Moneter dan Sistem Pembayaran
BACA JUGA:Penjualan Properti Merosot 25,67%, Survei BI Ungkap Penyebabnya
Conflict di Middle East yang masih berlangsung dengan intensitas yang meningkat sehingga mendorong naiknya harga minyak dan ketidakpastian global, kata Destry dalam keterangannya kepada Media, Selasa (12/5/2026).
Dia menuturkan, kondisi tersebut membuat investor cenderung mencari aset aman sehingga mata uang negara berkembang, termasuk rupiah, mengalami tekanan. Selain faktor eksternal, tekanan juga datang dari kebutuhan dolar AS di dalam negeri yang meningkat secara musiman.
Pembayaran Utang dan Kebutuhan Haji Dorong Permintaan Dolar AS
Dari sisi domestik, kebutuhan valas meningkat seiring pembayaran utang luar negeri (ULN), pembagian dividen perusahaan, hingga kebutuhan masyarakat untuk ibadah haji. Kondisi tersebut membuat permintaan dolar AS di pasar domestik naik dalam beberapa waktu terakhir.
Dari domestik, meningkatknya kebutuhan dollar secara musiman seperti pembayaran ULN dan pembayaran deviden serta kebutuhan untuk ibadah haji mendorong peningkatan permintaan dollar di pasar domestik, ujarnya.
Meski begitu, BI menilai, tekanan tersebut bersifat sementara atau musiman sehingga peluang penguatan rupiah masih terbuka setelah permintaan dolar mulai mereda.



/2025/03/06/38420056.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/781851/original/087607700_1418807496-nickel.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5542609/original/067408900_1774947977-WhatsApp_Image_2026-03-31_at_14.15.23.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3005833/original/005389400_1577346189-20191226-Proyeksi-Pertumbuhan-Ekonomi-Indonesia-2020-ANGGA-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5562094/original/020205200_1776778989-Menteri_Keuangan_Purbaya_Yudhi_Sadewa-21_April_2026a.jpeg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5579577/original/079405700_1778057267-7.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4875742/original/093303000_1719401842-20240626-Rupiah_Melemah-ANG_5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1954437/original/003823600_1519994760-20180302-Dolar-AY1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4826292/original/095830100_1715176226-fotor-ai-20240508204955.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5186932/original/075074000_1744629098-20250414-Harga_Emas_Batangan-AFP_5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3352150/original/028984100_1610959709-20210118-Emas-Antam-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5547859/original/095901800_1775473870-dpr7.jpg)