Jakarta – Nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan terhadap dolar Amerika Serikat (AS) pada perdagangan Jumat (24/4/2026), tercermin dari pergerakan kurs dolar AS di sejumlah bank besar nasional yang mendekati level Rp 17.300.
Berdasarkan data e-Rate, kurs dolar AS di BCA tercatat pada level Rp 17.280 untuk beli dan Rp 17.300 untuk jual. Sementara itu, BRI mematok kurs beli Rp 17.118 dan jual Rp 17.280 (per 22 April 2026).
BACA JUGA:Purbaya: Rupiah Tertekan Faktor Global, Bukan karena Fundamental Ekonomi
BACA JUGA:Pengamat Ungkap Langkah Agresif BI Tahan Gejolak Rupiah
BACA JUGA:Sempat Sentuh Rp 17.300 per Dolar AS, Rupiah Berbalik Menguat
BACA JUGA:Bos BI: Nilai Tukar Rupiah Sekarang Undervalued
Adapun di Bank Mandiri, nilai tukar berada di Rp 17.265 untuk beli dan Rp 17.295 untuk jual. Sedangkan BNI menetapkan kurs beli Rp 17.272 dan jual Rp 17.302.
Pergerakan ini menunjukkan mayoritas bank telah menempatkan kurs jual dolar AS di kisaran Rp 17.295 hingga Rp 17.302, menandakan tekanan terhadap rupiah masih cukup kuat di pasar.
Secara pasar, rupiah memang tengah melemah dan sempat menyentuh level psikologis Rp 17.300 per dolar AS. Berdasarkan data Trading Economics, nilai tukar rupiah berada di kisaran Rp 17.295 per dolar AS pada pagi hari, setelah sebelumnya sempat menembus level Rp 17.300.
Sebelumnya, Presiden Komisioner HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, menilai tekanan terhadap rupiah dipengaruhi oleh kombinasi faktor global dan domestik yang cukup kuat.
“Pelemahan Rupiah yang kini mendekati level Rp 17.300 dipicu oleh kombinasi tekanan eksternal yang masif dan kerentanan domestik,” ujar Sutopo kepada Kamis, 23 April 2026.
Ia menjelaskan, eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, termasuk isu blokade di Selat Hormuz, mendorong lonjakan harga energi dan inflasi global. Kondisi ini membuat dolar AS semakin diminati sebagai aset safe haven. Di sisi lain, ketergantungan Indonesia terhadap impor energi serta keluarnya aliran modal akibat sentimen risk-off turut memperberat tekanan terhadap rupiah.



/2025/05/20/52895388.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1043408/original/005104300_1446622303-20151104-OJK-AY-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5355485/original/050496700_1758339034-unnamed__1_.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5564499/original/097351100_1776946494-1000723469.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4013693/original/013633000_1651632346-000_329D9VG.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4013697/original/070218700_1651632437-000_329D9UW.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/976572/original/043059500_1441279137-harga-emas-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5219629/original/039640900_1747221144-20250514-Harga_Emas-ANG_1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3532293/original/061990200_1628161552-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-7.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4089307/original/075313700_1657837181-Harga_Emas_Hari_Ini.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3596914/original/020445500_1633708544-Ilustrasi_Miliarder_atau_Orang_Terkaya.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5219635/original/040174000_1747221146-20250514-Harga_Emas-ANG_6.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5565585/original/034003000_1777034790-897fa632-68f2-4910-aeb5-c897854b59a5.jpeg)