Jakarta – Kepala Ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksi Bank Indonesia (BI) mempertahankan suku bunga acuan atau BI Rate di 5,75%. Josua mengatakan, langkah BI itu mempertimbangkan inflasi.
Akan tetapi, ia menilai, BI juga akan memberikan nada komunikasi tetap tegas dan kembali menaikkan suku bunga acuan bila rupiah kembali tertekan.
BACA JUGA:Rupiah Menguat ke 17.937 per Dolar AS, Pasar Nantikan Keputusan BI
BACA JUGA:Harga Pangan 21 Juli 2026: Telur Ayam Merangkak Naik
BACA JUGA:Analis Prediksi IHSG Wait and See Jelang Rapat BI, Saham Perbankan Tetap Menarik
BACA JUGA:Cek Fakta: Hoaks, BI Terbitkan Uang Baru Rp 5 Juta Bergambar Soekarno
Menurut saya, sinyal terkuat menjelang RDG 21–22 Juli 2026 adalah BI berpotensi untuk mempertahankan BI-Rate di 5,75%, tetapi dengan nada komunikasi yang tetap tegas dan siap menaikkan lagi bila rupiah kembali tertekan tajam,” ujar Josua kepada www.wmhg.org, ditulis Selasa, (21/7/2026).
Josua mengatakan, setelah kenaikan kumulatif 100 basis poin (bps) sejak Mei 2026, BI sudah memberi sinyal kuat prioritas utamanya adalah stabilitas rupiah dan inflasi, bukan mendorong pelonggaran. Ia menambahkan, kenaikan terakhir pada RDG Juni menjadi 5,75% juga secara eksplisit ditujukan untuk memperkuat stabilisasi rupiah di tengah ketidakpastian global dan menjaga inflasi 2026–2027 tetap dalam sasaran 2,5% plus minus 1%.
Josua menilai, alasan utama untuk menahan suku bunga adalah inflasi memang naik, tetapi belum keluar dari sasaran. Inflasi Juni 2026 naik menjadi 3,34% secara tahunan dari 3,08% pada Mei, terutama karena tekanan biaya dari pelemahan rupiah, transportasi, dan harga barang impor.
Ini perlu diwaspadai karena sudah mendekati batas atas sasaran BI, tetapi belum cukup untuk memaksa kenaikan suku bunga tambahan jika rupiah dan ekspektasi inflasi tidak memburuk lebih lanjut,” kata dia.
Namun, Josua melihat, risiko kenaikan tetap terbuka jika rupiah bergerak tidak terkendali, arus modal keluar meningkat, atau pasar kembali meragukan kemampuan BI menjaga stabilitas.
Ia mengatakan, tekanan eksternal masih besar karena dolar Amerika Serikat (AS) relatif kuat, arah suku bunga Amerika Serikat masih ketat, harga minyak masih sensitif terhadap geopolitik, dan neraca perdagangan Indonesia mulai memberi sinyal pelemahan.



/2024/10/28/1941887625.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3284618/original/004329100_1604313218-20201102-Hari-ini-Rupiah-Ditutup-melemah-atas-dolar-ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4971211/original/002589400_1729136232-IMG_5738.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2384193/original/016916200_1539657980-warren.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4184395/original/026585700_1665141029-FOTO.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5553112/original/055154800_1775896127-IMG_9239.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296724/original/031252500_1784022175-IMG_6017.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5579977/original/062442800_1778122864-WhatsApp_Image_2026-05-07_at_09.36.39.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3552343/original/069953600_1629981833-clay-banks-XvS-uKUoUao-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028256/original/032953400_1732871460-fotor-ai-20241129161044.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816486/original/000456500_1714383664-fotor-ai-20240429133814.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2017157/original/004600900_1521608575-indosat_1_673x373.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4876285/original/011593500_1719462277-fotor-ai-2024062711138.jpg)