Jakarta – Gubernur Bank Indonesia (BI), Perry Warjiyo mengungkapkan alasan kenaikan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,25 persen. Cara ini utamanya untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah.
Perry mencatat, rupiah menyentuh level 17.700 per dolar Amerika Serikat (AS). Kenaikan BI Rate sebesar 50 basis poin salah satunya menyasar stabilisasi nilai tukar rupiah tersebut.
BACA JUGA:BI Naikkan Suku Bunga Acuan Jadi 5,25 Persen
BACA JUGA:Transaksi QRIS Tumbuh 108 Persen pada April 2026
BACA JUGA:QRIS Ditargetkan Tembus India hingga Timor Leste Tahun Ini
Bank Indonesia dengan keputusan kebijakan ini meyakini bahwa rupiah akan stabil dan akan menguat. Insya Allah nanti di bulan Juli, Agustus itu akan menguat, ungkap Perry dalam konferensi pers Hasil Rapat Dewan Gubernur BI, Rabu (20/5/2026).
Kenaikan BI Rate dipadukan dengan penyesuaian bunga Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) bisa menarik arus modal asing masuk ke Indonesia. Harapannya, hal ini mampu memperkuat nilai rupiah terhadap mata uang asing.
Perry juga mengungkap kenaikan BI Rate jadi 5,25 persen mampu menjaga tingkat inflasi dalam sasaran yang ditetapkan pada kisaran 1,5-3,5 persen.Â
Kami membuat berbagai skenario realistis dan kami meyakini dengan kenaikan BIR 50 basis point itu mampu membawa perkiraan inflasi ke depan khususnya inflasi inti akan berada dalam sasaran 2,5 plus minus 1 persen, tuturnya.
Jaga Pertumbuhan Ekonomi
Perry menjelaskan lagi, alasan lainnya menaikkan suku bunga BI mampu menjaga pertumbuhan ekonomi nasional pada 2026 ini. Kami meyakini pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2026 masih dalam berada rentang proyeksi Bank Indonesia 4,9 sampai 5,7 persen, ucapnya.
Poin lainnya, kenaikan BI Rate dilakukan untuk menjaga likuiditas perbankan di Tanah Air. Cara itu juga didukung dengan langkah BI membeli Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder.
Bahwa dengan kebijakan ini kami akan memastikan bahwa likuiditas di pasar uang dan perbankan lebih dari cukup. Itulah langkah-langkah yang kami pastikan juga untuk turut mendorong pertumbuhan ekonomi, jelas Perry.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5129438/original/034681000_1739288405-BI_10.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6377629/original/006536800_1779252749-Rapat_DPR.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6451895/original/068053700_1779316601-perkuat-ekspor-pemerintah-guyur-lpei-rp-1-triliun.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5160378/original/069897800_1741795320-cacbe7cf-b221-491f-8ec9-d3ec31df7d43.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6387768/original/064593600_1779263008-IMG_4415.jpeg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/3181744/original/039116300_1594892567-20200716-Rupiah-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6224946/original/089033600_1779101760-kur_BRI.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2832426/original/059440700_1560940276-20190619-Rupiah-Menguat-di-Level-Rp14.264-per-Dolar-AS1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5219633/original/084845400_1747221145-20250514-Harga_Emas-ANG_2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3532284/original/011004900_1628161432-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/976570/original/042706700_1441279137-harga-emas-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6430134/original/028574200_1779298469-bi-catat-pelemahan-rupah-telah-mencapai-10-persen-rev1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4216934/original/094233100_1667793288-Wall-Street-3.jpg)