Jakarta – Imbal hasil obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) kembali meningkat pada Kamis, 21 Mei 2026. Dengan biaya pinjaman naik seiring perhatian investor kembali pada tekanan inflasi yang dihadapi ekonomi Amerika Serikat (AS).
Mengutip CNBC, Kamis (21/5/2026), imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 10 tahun, patokan utama untuk hipotek, pinjaman mobil dan utang kartu kredit, meningkat lebih dari tiga basis poin pada Kamis pagi mencapai 4,6014%.
BACA JUGA:Dolar AS Menguat dan Rupiah Tertekan, Apa Pengaruhnya ke Warga Indonesia?
BACA JUGA:Harga Emas Perkasa Tersengat Harapan Penyelesaian Perang Iran
BACA JUGA:Rincian Asumsi Makro Ekonomi dan RAPBN 2027 yang Diumumkan Prabowo
BACA JUGA:Dolar AS Menguat, Investor Cermati Prospek Suku Bunga The Fed
Sementara itu, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor 30 tahun yang lebih sensitif terhadap risiko politik, naik lebih dari satu basis poin menjadi 5,1334%.
Di sisi lain, imbal hasil obligasi pemerintah AS bertenor dua tahun, yang biasanya lebih sensitif terhadap keputusan suku bunga jangka pendek Federal Reserve, naik lebih dari basis poin menjadi 4,0746%.
Kenaikan biaya pinjaman pada Kamis menyusul penurunan tajam pada sesi sebelumnya, yang terjadi setelah imbal hasil obligasi global menyentuh level tertinggi dalam beberapa dekade pada awal pekan karena kekhawatiran inflasi yang kembali muncul.
Imbal hasil obligasi AS 30 tahun turun lebih dari 6 basis poin pada Rabu, dengan imbal hasil obligasi Treasury 10 tahun anjlok lebih dari 9 basis poin pada hari itu. Penurunan ini terjadi ketika investor mencermati risalah dari Komite Pasar Terbuka Federal (FOMC) pada 27-28 April, yang menunjukkan mayoritas pejabat Fed mengantisipasi kenaikan suku bunga jika perang Iran mendorong inflasi lebih tinggi.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/6430134/original/028574200_1779298469-bi-catat-pelemahan-rupah-telah-mencapai-10-persen-rev1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6377629/original/006536800_1779252749-Rapat_DPR.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6451895/original/068053700_1779316601-perkuat-ekspor-pemerintah-guyur-lpei-rp-1-triliun.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5160378/original/069897800_1741795320-cacbe7cf-b221-491f-8ec9-d3ec31df7d43.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6387768/original/064593600_1779263008-IMG_4415.jpeg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/3181744/original/039116300_1594892567-20200716-Rupiah-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6224946/original/089033600_1779101760-kur_BRI.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2832426/original/059440700_1560940276-20190619-Rupiah-Menguat-di-Level-Rp14.264-per-Dolar-AS1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5219633/original/084845400_1747221145-20250514-Harga_Emas-ANG_2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3532284/original/011004900_1628161432-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/976570/original/042706700_1441279137-harga-emas-2.jpg)