Jakarta – PT Pupuk Indonesia (Persero) mengoperasikan Command Center sebagai pusat kendali distribusi pupuk nasional dari pabrik hingga ke tangan petani. Untuk memantau realisasi penebusan pupuk subsidi yang telah mencapai 3,7 juta ton per 19 Mei 2026, dengan stok pupuk nasional sebanyak 1,17 juta ton.
Senior Vice President (SVP) Distribusi Pupuk Indonesia Veronika Trisna Sukmawati mengatakan, Command Center menjadi bagian dari transformasi digital perusahaan yang mengintegrasikan berbagai sistem digital distribusi dalam satu dashboard monitoring.
BACA JUGA:Pupuk Indonesia Ekspor Perdana Urea ke Australia, Stok Domestik Dipastikan Aman
BACA JUGA:Temuan BPK: Pabrik Tua Bikin Produksi Pupuk BUMN Boros Rp 9,9 Triliun
BACA JUGA:Pupuk Urea Indonesia Jadi Rebutan Sejumlah Negara, Berapa Produksinya?
Integrasi pemantauan berbasis Command Center mendukung implementasi Peraturan Presiden Nomor 113 Tahun 2025, di mana Pupuk Indonesia berperan sebagai penanggung jawab utama penyaluran pupuk hingga ke tingkat Penerima Pupuk pada Titik Serah (PPTS).
Melalui transformasi digital ini, Pupuk Indonesia membangun rantai pasok pupuk yang lebih efisien, terintegrasi, dan responsif dengan menghubungkan proses distribusi dari hulu hingga hilir, kata Veronika, Kamis (21/5/2026).
Dalam operasionalnya, Command Center dilengkapi berbagai fitur monitoring yang terhubung di setiap tahapan distribusi. Pada tahap produksi, Command Center mampu memantau tingkat produktivitas seluruh pabrik Pupuk Indonesia Grup.
Selanjutnya pada tahap distribusi, fitur pelacakan kapal dan truk berbasis GPS memungkinkan Pupuk Indonesia memantau pergerakan distribusi di lapangan. Sekaligus mendeteksi potensi hambatan maupun penyimpangan selama proses pengangkutan berlangsung.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/4216934/original/094233100_1667793288-Wall-Street-3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6377629/original/006536800_1779252749-Rapat_DPR.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6451895/original/068053700_1779316601-perkuat-ekspor-pemerintah-guyur-lpei-rp-1-triliun.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5160378/original/069897800_1741795320-cacbe7cf-b221-491f-8ec9-d3ec31df7d43.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6387768/original/064593600_1779263008-IMG_4415.jpeg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/3181744/original/039116300_1594892567-20200716-Rupiah-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6224946/original/089033600_1779101760-kur_BRI.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2832426/original/059440700_1560940276-20190619-Rupiah-Menguat-di-Level-Rp14.264-per-Dolar-AS1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5219633/original/084845400_1747221145-20250514-Harga_Emas-ANG_2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3532284/original/011004900_1628161432-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/976570/original/042706700_1441279137-harga-emas-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6430134/original/028574200_1779298469-bi-catat-pelemahan-rupah-telah-mencapai-10-persen-rev1.jpg)