Jakarta – Lebih dari empat tahun sejak dimulainya perang Rusia-Ukraina, warga Rusia memilih menggunakan uang tunai karena gangguan internet yang menyebabkan hambatan transaksi dengan kartu ATM. Langkah ini juga dilakukan perusahaan menghindari pajak di tengah peningkatan tekanan finansial.
Melansir BBC, Senin (20/7/2026), Rusia telah menambah US$ 20 miliar, atau sekitar Rp 359,5 triliun (asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di kisaran 17.976), uang tunai ke sirkulasi ekonominya sejak awal tahun. Berdasarkan data bank sentral, ini lonjakan tertinggi untuk periode selain pada pandemi Covid-19.
BACA JUGA:400 Drone Ukraina Serbu Moskow Usai Rusia Bombardir Kyiv
BACA JUGA:Rusia Lancarkan Serangan Besar ke Ukraina, 8 Orang Tewas
BACA JUGA:Serangan Drone Ukraina Tewaskan 9 Orang di Rusia
Lonjakan ini muncul lantaran serangan drone Ukraina, yang menyebabkan Kremlin untuk menonaktifkan akses internet seluler di berbagai wilayah, sehingga banyak yang tidak bisa menggunakan kartu sebagai alat transaksi. Pemerintah mengklaim bahwa ini dilakukan untuk menangkal serangan drone.
Warga berpendapat bahwa memiliki uang tunai lebih menjamin. “Memiliki uang tunai memberi rasa aman dan kontrol,” ujar seorang wanita di Moscow.
“Jika ada keadaan darurat di kota, saya masih bisa membeli kebutuhan dasar walau internet mati,” lanjutnya.
Lonjakan ini juga bukan menjadi yang pertama, karena sebelumnya warga Rusia juga telah menarik tunai serentak untuk menangkal ketidakpastian ekonomi masa perang. Ini mempersulit Rusia untuk menagih pajak, meskipun negara tersebut sedang mengalami defisit anggaran untuk biaya perang.
Sirkulasi uang tunai meroket saat Presiden Vladimir Putin mengumumkan mobilisasi parsial pada September 2022 dan selama pemberontakan singkat yang dilakukan oleh kelompok tentara bayaran Wagner pada Juni 2023.
Meskipun sektor migas Rusia, yang menopang seperempat pendapatan negara, diuntungkan oleh kenaikan harga minyak akibat perang Iran, ekonominya secara keseluruhan melemah.
Pada bulan Mei lalu, menteri keuangan Rusia memangkas prediksi pertumbuhan Gross Domestic Product (GDP) nya menjadi 0,4% untuk tahun 2026. Rusia berpotensi mengalami pertumbuhan terlemahnya sejak 2022.



/2024/10/28/1941887625.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4483269/original/070788300_1687856991-IMG-20230627-WA0016.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4971211/original/002589400_1729136232-IMG_5738.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5554069/original/013962000_1776058564-Untitled.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2384193/original/016916200_1539657980-warren.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5553112/original/055154800_1775896127-IMG_9239.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296724/original/031252500_1784022175-IMG_6017.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5579977/original/062442800_1778122864-WhatsApp_Image_2026-05-07_at_09.36.39.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3552343/original/069953600_1629981833-clay-banks-XvS-uKUoUao-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028256/original/032953400_1732871460-fotor-ai-20241129161044.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816486/original/000456500_1714383664-fotor-ai-20240429133814.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2017157/original/004600900_1521608575-indosat_1_673x373.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4876285/original/011593500_1719462277-fotor-ai-2024062711138.jpg)