Jakarta – Pergerakan harga cabai yang naik-turun dalam beberapa waktu terakhir dinilai sebagai fenomena yang lazim. Pengamat pangan, Khudori, menyebut cabai termasuk komoditas yang sangat volatil karena sifatnya sebagai bahan segar, mudah rusak, dan bergantung pada musim.
Pergerakan harga cabai itu harian dan bisa sangat tinggi. Ini ciri khas komoditas segar yang produksinya musiman serta terkonsentrasi di wilayah tertentu,” ujar Khudori saat dikonfirmasi www.wmhg.org, Rabu (29/4/2026).
BACA JUGA:Harga Pangan Hari Ini 28 April 2026: Cabai Rawit Tembus Rp 165 Ribu
BACA JUGA:Harga Pangan Hari Ini: Cabai Rawit Rp 62.300, Telur Ayam Rp 35.150 per Kg
BACA JUGA:Harga Pangan Hari Ini 26 April 2026: Telur Ayam Rp 31.950 per Kg, Bawang Merah Dipatok Segini
Menurut dia, gangguan kecil saja pada rantai pasok dapat langsung memicu lonjakan harga. Masalah distribusi atau gangguan di tingkat produksi, seperti serangan hama dan penyakit tanaman, bisa membuat pasokan menurun drastis. Ketika pasokan turun, harga akan meroket. Sebaliknya, saat pasokan melimpah, harga pun cepat terkoreksi.
Namun demikian, Khudori mengingatkan pembacaan tren harga cabai juga bergantung pada sumber data yang digunakan. Ia mencontohkan perbedaan antara data dari Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS) yang dikelola Bank Indonesia dan Sistem Pemantauan Pasar dan Kebutuhan Pokok (SP2KP) milik Kementerian Perdagangan.
Berdasarkan data SP2KP, harga cabai rawit merah justru cenderung menurun dalam sebulan terakhir. Sementara itu, cabai merah besar dan cabai merah keriting tercatat mengalami kenaikan tipis.
Perbedaan ini, kata dia, bukan hal yang aneh. Setiap sistem memiliki metode pengumpulan data, jumlah titik pemantauan, serta lokasi yang berbeda-beda. Hal tersebut membuat level harga yang ditampilkan bisa tidak sama antarplatform.
“Perbedaan titik pengamatan dan jumlah sampel sangat memengaruhi hasil. Karena itu, wajar jika ada selisih angka antar sumber,” kata Khudori.
Ia menambahkan, masyarakat sebaiknya memahami konteks di balik data harga yang beredar, sehingga tidak keliru menilai kondisi pasar hanya dari satu sumber informasi.



/2023/02/23/301490227.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/876774/original/009328100_1431659143-OPEC_2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472850/original/077010600_1768378156-Menteri_Keuangan_Purbaya_Yudhi_Sadewa-14_Januari_2026-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4604009/original/088733100_1696838759-WhatsApp_Image_2023-10-09_at_13.31.08__1_.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5500660/original/042683800_1770872753-Menko_Bidang_Perekonomian_Airlangga_Hartarto-12_Februari_2026b.jpeg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/3337094/original/001943000_1609328703-20201230-Rupiah-Ditutup-Menguat-3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2439239/original/004031600_1542966203-20181123-Nilai-Tukar-Rupiah-Menguat-Atas-Dolar-Angga2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4048744/original/052794300_1654847232-10_juni_2022-4.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5570481/original/055024800_1777527657-IMG_4124.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5569948/original/053457700_1777463717-1000304446.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5568509/original/009151800_1777361366-Taksi_Green_SM-1.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/866094/original/031214800_1430464562-Petugas4.jpg)