Jakarta – Di tengah capaian pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61% pada kuartal I-2026, dunia usaha justru menghadapi tekanan yang tidak ringan usai kurs rupiah tembus 17.400 per dolar AS
Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) menilai pelemahan nilai tukar rupiah menjadi faktor utama yang menekan kinerja bisnis, terutama dari sisi biaya produksi.
BACA JUGA:Kadin Ungkap Ancaman yang Mengintai di Balik Pertumbuhan Ekonomi 5,61%
BACA JUGA:Kurs Rupiah Ditutup Menguat di Tengah Tekanan Dolar AS
Ketua Umum Apindo, Shinta Kamdani, menyoroti bahwa kondisi ini menciptakan tekanan ganda bagi pelaku usaha. Di satu sisi, pertumbuhan ekonomi secara makro masih terlihat solid, namun di sisi lain biaya operasional terus meningkat akibat depresiasi rupiah.
Sejak awal tahun, rupiah sudah menunjukkan tren pelemahan, dari kisaran Rp 16.800 per dolar AS di Januari hingga mendekati Rp 17.000 pada akhir kuartal I-2026. Kini, tekanan semakin kuat dengan kurs yang telah mencapai sekitar Rp 17.400.
Di sisi lain, tekanan terhadap nilai tukar rupiah sudah mulai terlihat sejak awal tahun, di mana rupiah sudah berada di kisaran Rp16.800 di awal januari hingga mendekati level psikologis Rp17.000 di akhir kuartal I, sebelum kemudian terus melemah hingga kini menyentuh sekitar Rp17.400 per dolar AS, kata Shinta kepada Selasa 95/5/2026).
Menurutnya, bagi sektor usaha yang bergantung pada impor bahan baku, kondisi ini berdampak langsung pada kenaikan cost of goods sold. Harga bahan baku yang lebih mahal membuat beban produksi meningkat signifikan.
Situasi ini memaksa banyak pelaku usaha untuk melakukan efisiensi, bahkan menahan ekspansi bisnis guna menjaga stabilitas keuangan perusahaan.
Bagi sektor-sektor yang sangat bergantung pada impor bahan baku, depresiasi rupiah secara langsung meningkatkan cost of goods sold, menekan margin, dan dalam banyak kasus membatasi kemampuan ekspansi usaha, ujarnya.



/2025/06/13/674699726.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5433099/original/004218300_1764834401-Menteri_Keuangan_Purbaya_Yudhi_Sadewa-4_Desember_2025.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5522140/original/044449300_1772718909-7eef455c-f3b2-4a8b-a9e6-6297d80f6724.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5501244/original/065983200_1770890840-Menteri_Koordinator_Bidang_Perekonomian_Airlangga_Hartarto-12_Februari_2026de.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2172325/original/001382600_1525690405-Investasi-Meningkat_-Ekonomi-Indonesia-Kuartal-1-Tumbuh-5_06_1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5562094/original/020205200_1776778989-Menteri_Keuangan_Purbaya_Yudhi_Sadewa-21_April_2026a.jpeg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5196555/original/022471000_1745413931-20250423-Perkotaan-ANG_2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/953317/original/021435900_1439363719-20150812-Rupiah-Anjlok5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3291093/original/097460500_1604903000-20201109-Donald-Trump-Kalah-Pilpres-AS_-Rupiah-Menguat-7.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2199763/original/055327500_1525841213-hoax.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4816479/original/001937700_1714383474-fotor-ai-2024042913365.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4816482/original/062767500_1714383557-fotor-ai-20240429133654.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4584690/original/024803900_1695355029-AP23173763610082-e1695301934278.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5028260/original/094937500_1732871703-fotor-ai-2024112916143.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4876293/original/006485300_1719462342-fotor-ai-20240627112341.jpg)