Makkah – Amirul Hajj KH Cholil Nafis mengkritik orientasi penyelenggaraan haji yang terlalu menekankan penurunan biaya perjalanan. Menurut dia, kebijakan tersebut berpotensi mengorbankan kualitas layanan yang diterima jemaah Indonesia di Tanah Suci.
Cholil menilai persepsi bahwa biaya haji harus terus ditekan perlu dievaluasi. Ia mengingatkan bahwa ibadah haji pada dasarnya diwajibkan bagi umat Islam yang “mampu,” sehingga fokus pemerintah semestinya tertuju pada peningkatan pelayanan, bukan semata-mata mengejar biaya murah.
BACA JUGA:Toilet Perempuan di Mina Jadi Evaluasi, Begini Penjelasan Kemenhaj
BACA JUGA:Daun Pisang Antar Mbah Painah Pergi ke Tanah Suci
BACA JUGA:Ada Pos Khusus Sebelum Jemaah Haji Indonesia dari Makkah ke Madinah
“Jangan menganggap bahwa haji itu harus dipermurah sehingga semua orang bisa berangkat. Dalam Islam itu bagi yang mampu,” kata Cholil pada tim Media Center Haji di Makkah, dikutip Minggu (7/6/2026).
Ia menilai tekanan untuk menurunkan biaya haji berdampak pada kualitas fasilitas yang diperoleh jemaah. Salah satu konsekuensinya adalah penempatan akomodasi yang relatif jauh dari lokasi-lokasi utama pelaksanaan ibadah.
Menurut dia, sebagian jemaah Indonesia masih harus berjalan lebih jauh menuju Jamarat maupun Masjidil Haram dibanding jemaah dari sejumlah negara lain yang memperoleh layanan dengan standar lebih tinggi.
“Karena bayarnya lebih murah, akhirnya kita ditempatkan di tempat yang jauh dari Jamarat dan fasilitas di Mina juga tidak lebih baik,” ujarnya.
Cholil mengatakan, pemerintah tidak perlu memosisikan diri sebagai pihak yang menjual layanan haji dengan harga serendah mungkin. Ia justru mendorong negara bertindak sebagai penyedia layanan yang memastikan jemaah memperoleh fasilitas yang layak, aman, dan manusiawi.
“Haji itu tidak harus murah, apalagi murahan. Pemerintah jangan berbisnis, tetapi melayani,” katanya.




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3545719/original/087868100_1629425274-059440700_1560940276-20190619-Rupiah-Menguat-di-Level-Rp14.264-per-Dolar-AS1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6469027/original/003823200_1779330806-kebanjiran-barang-impor-ilegal-jokowi-akui-ada-permainan-bea-cukai.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4435870/original/088377700_1684729184-serena-t-EeIVy0KPfcE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5493247/original/043625100_1770199019-Menteri_Sekretaris_Negara_Prasetyo_Hadi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5425364/original/017829900_1764223460-1000162796.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4183710/original/033100200_1665113148-Bank_Indonesia_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8047512/original/073925100_1780890550-Screenshot_2026-06-08_104804.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2053635/original/071518800_1522820303-20180404-BI-MER-AB2a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3975034/original/086610900_1648205536-20220325-Harga-emas-pegadaian-naik-ANGGA-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4409978/original/045031200_1682764101-Colana_Kripto.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5302025/original/025418900_1753969652-Gemini_Generated_Image_pok85upok85upok8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028254/original/041675300_1732871304-fotor-ai-2024112916726.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6998573/original/053700600_1779768852-AP26142839887177.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816484/original/039630500_1714383627-fotor-ai-2024042913407.jpg)