Jakarta – Pelemahan nilai tukar rupiah yang kini menyentuh level Rp 18.000 per dolar Amerika Serikat (AS) mulai memunculkan kekhawatiran terhadap sejumlah sektor industri yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku dan komponen impor.
Presiden Komisaris HFX International Berjangka, Sutopo Widodo, mengatakan depresiasi rupiah telah menciptakan efek polarisasi yang tajam di sektor riil. Di satu sisi terdapat sektor yang memperoleh keuntungan dari penguatan dolar AS, namun di sisi lain banyak industri domestik harus menghadapi kenaikan biaya operasional yang signifikan.
BACA JUGA:Rupiah Melemah, Harga Baju hingga Sepatu Siap-Siap Naik Bulan Depan
BACA JUGA:IHSG Anjlok 4,5% ke 5.342, Ini Pemicunya
Menurut Sutopo, industri manufaktur, farmasi, dan otomotif menjadi sektor yang paling terdampak karena sebagian besar bahan baku maupun komponen produksinya masih berasal dari luar negeri. Ketika nilai tukar rupiah melemah, biaya impor otomatis meningkat.
Pelemahan Rupiah yang kini menyentuh Rp 18.000 per Dolar AS menciptakan efek polarisasi yang tajam di sektor riil, di mana industri manufaktur, farmasi, dan otomotif menjadi kelompok yang paling rentan akibat tingginya ketergantungan pada komponen serta bahan baku impor (high import content), kata Sutopo kepada www.wmhg.org, Minggu (7/6/2026).
Kondisi tersebut memicu fenomena imported inflation atau inflasi yang berasal dari kenaikan harga barang impor, sehingga beban produksi perusahaan ikut membengkak.
Ketika biaya produksi membengkak akibat fenomena imported inflation ini, margin keuntungan mereka tergerus drastis, karena harga jual ke konsumen domestik tidak dapat dinaikkan secara instan di tengah daya beli yang sensitif, ujarnya.




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5302024/original/069793300_1753969621-Gemini_Generated_Image_9sncvd9sncvd9snc.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6469027/original/003823200_1779330806-kebanjiran-barang-impor-ilegal-jokowi-akui-ada-permainan-bea-cukai.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4435870/original/088377700_1684729184-serena-t-EeIVy0KPfcE-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5493247/original/043625100_1770199019-Menteri_Sekretaris_Negara_Prasetyo_Hadi.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5425364/original/017829900_1764223460-1000162796.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4183710/original/033100200_1665113148-Bank_Indonesia_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8047512/original/073925100_1780890550-Screenshot_2026-06-08_104804.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2053635/original/071518800_1522820303-20180404-BI-MER-AB2a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3975034/original/086610900_1648205536-20220325-Harga-emas-pegadaian-naik-ANGGA-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4409978/original/045031200_1682764101-Colana_Kripto.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5302025/original/025418900_1753969652-Gemini_Generated_Image_pok85upok85upok8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028254/original/041675300_1732871304-fotor-ai-2024112916726.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6998573/original/053700600_1779768852-AP26142839887177.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816484/original/039630500_1714383627-fotor-ai-2024042913407.jpg)