Jakarta – Per 21 April 2026, pasar global tengah menyoroti meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran seiring mendekatnya tenggat gencatan senjata selama dua minggu. Hingga kini, jalur diplomasi masih belum menunjukkan kepastian, terutama setelah eskalasi kembali terjadi di sekitar Selat Hormuz, jalur strategis perdagangan energi dunia.
Dikutip dari riset Varntix, Rabu (29/4/2026), kondisi geopolitik ini berdampak langsung pada pasar kripto, khususnya harga Bitcoin. Aset digital tersebut dikenal cepat merespons tekanan global, bukan karena fundamentalnya berubah drastis, melainkan akibat sentimen pasar jangka pendek yang sangat dominan.
BACA JUGA:Jerman Hapus Insentif Bebas Pajak Bitcoin mulai 2027, Investor Terancam
BACA JUGA:Dogecoin Melonjak saat Bitcoin Stagnan, Pasar Kripto Berubah Arah?
BACA JUGA:Block Mengenggam 28.355 Bitcoin hingga Maret 2026, Segini Nilainya
Ketika ketegangan meningkat, Bitcoin cenderung bergerak layaknya aset berisiko tinggi, bukan sebagai aset lindung nilai. Likuiditas pasar juga ikut tertekan, membuat pergerakan harga menjadi lebih acak dan sulit diprediksi. Bahkan saat pasar mulai menunjukkan pemulihan, sentimen negatif baru kerap kembali menahan laju kenaikan.
Akibatnya, kenaikan harga Bitcoin dalam beberapa waktu terakhir belum sepenuhnya mencerminkan kepercayaan pasar yang solid. Pergerakan yang terjadi masih bersifat reaktif terhadap isu global, bukan didorong oleh faktor fundamental yang kuat.
Pada saat penulisan, harga Bitcoin berada di kisaran USD 75.900, setelah mencatat kenaikan sekitar 7,9 persen sepanjang bulan ini. Meski prospek jangka panjang dinilai tetap positif, fluktuasi harga dalam jangka pendek masih sangat dipengaruhi perkembangan konflik antara AS dan Iran.
Situasi ini pun memicu pertanyaan di kalangan investor mengenai efektivitas strategi investasi berbasis spekulasi, terutama di tengah ketidakpastian global yang masih tinggi.



/2025/12/02/1778127410.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4816484/original/039630500_1714383627-fotor-ai-2024042913407.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1043411/original/005540900_1446622303-20151104-OJK-AY-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5041840/original/074196800_1733742452-14.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5552785/original/012827200_1775829006-Kereta_Cepat_Whoosh.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5566434/original/071535000_1777184776-WhatsApp_Image_2026-04-26_at_13.13.52.jpeg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5501244/original/065983200_1770890840-Menteri_Koordinator_Bidang_Perekonomian_Airlangga_Hartarto-12_Februari_2026de.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5495652/original/062697000_1770385761-Menteri_Koordinator_Bidang_Perekonomian_RI_Airlangga_Hartarto-_6_Februari_2026a.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5567749/original/021231900_1777332665-3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5163573/original/060391100_1742020123-WhatsApp_Image_2025-03-15_at_11.26.24.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4595489/original/008615000_1696237539-20231002-Tampilan_Kereta_Cepat-AFP_4.jpg)