Jakarta – Bank Indonesia (BI) memilih untuk memperluas insentif penggunaan mata uang lokal atau Local Currency Transaction (LCT) sebagai langkah strategis mengurangi ketergantungan terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Kebijakan tersebut ditempuh bersamaan dengan peningkatan insentif bagi investasi portofolio asing guna menjaga stabilitas nilai tukar rupiah tanpa harus menaikkan suku bunga acuan (BI-Rate).
Gubernur BI, Perry Warjiyo, menjelaskan bahwa penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi bersama negara mitra akan menekan permintaan terhadap dolar AS sekaligus memperdalam pasar valuta asing (valas) domestik.
BACA JUGA:Transaksi QRIS Antarnegara Tembus Rp 1,52 Triliun pada Triwulan II 2026
BACA JUGA:BI Tegaskan Tak Larang Beli Dolar AS di Atas US$ 10.000
“Dengan diversifikasi pembayaran perdagangan dan investasi, permintaan terhadap dolar AS akan berkurang. Yang kami lakukan adalah memanfaatkan Local Currency Transaction—baik dalam yen, yuan, maupun mata uang lainnya—untuk memperkuat transaksi di pasar valas dalam negeri,” ujar Perry Warjiyo dalam konferensi pers hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI, Rabu (22/7/2026).
Perry memaparkan, BI telah memperluas implementasi LCT dengan sejumlah negara mitra, di antaranya Jepang, China, Malaysia, Thailand, Korea Selatan, hingga Uni Emirat Arab (UEA). Guna mengakselerasi pemanfaatannya, BI memberikan insentif swap beli lindung nilai (hedging) sebesar 10% serta insentif Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF) lindung nilai sebesar 10%.
Menurut Perry, kebijakan ini tidak hanya mendorong penggunaan mata uang lokal dalam transaksi perdagangan dan investasi, tetapi juga mendongkrak likuiditas pasar valas domestik sehingga ketahanan rupiah makin kokoh.
“Dengan adanya insentif untuk aliran masuk investasi portofolio asing dan pemanfaatan Local Currency Transaction, pasar valas kita akan makin dalam sekaligus memperkuat stabilitas nilai tukar rupiah,” tambahnya.



/2018/12/19/1629742345.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5014548/original/098765700_1732098324-IMG-20241120-WA0016.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2901439/original/036729000_1567581980-20190903_155509.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5495794/original/037276100_1770435301-WhatsApp_Image_2026-02-07_at_09.49.12.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306148/original/075572400_1784864433-Pantauan_di_Jasamarga_Tollroad_Command_Center__JMTC_-24_Juli_2026a.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5554069/original/013962000_1776058564-Untitled.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3271750/original/055065600_1603102549-20201019-Harga-Emas-Hari-Ini-Stabil-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3000972/original/026902200_1576748930-20191219-BI-Pertahankan-Suku-Bunga-Acuan-di-5-Persen-ANGGA-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3000975/original/019358200_1576748932-20191219-BI-Pertahankan-Suku-Bunga-Acuan-di-5-Persen-ANGGA-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816480/original/079795300_1714383491-fotor-ai-2024042913369.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740421/original/097240200_1707701801-fotor-ai-202402128340.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5027992/original/041439300_1732861105-fotor-ai-2024112913176.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3913228/original/031127900_1643028888-24_januari_2022-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028254/original/041675300_1732871304-fotor-ai-2024112916726.jpg)