Jakarta – Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkap jaringan judi online kini semakin banyak memanfaatkan Quick Response Code Indonesian Standard (QRIS) dan berbagai instrumen pembayaran digital untuk menyamarkan transaksi. Meski demikian, PPATK menegaskan bahwa QRIS bukanlah sumber permasalahan, melainkan instrumen pembayaran yang sah dan hanya disalahgunakan oleh pelaku kejahatan.
Menurut PPATK, kondisi tersebut menunjukkan pentingnya penguatan proses verifikasi, penerimaan, hingga pemantauan merchant secara berkelanjutan oleh penyelenggara jasa pembayaran agar tidak dimanfaatkan sebagai sarana transaksi judi online.
BACA JUGA:PPATK: Perputaran Dana Judol Turun 20 Persen di Era Prabowo
BACA JUGA:Temukan 6.300 ASN Main Judol, Menteri PU Usut Asal-usul Uangnya
BACA JUGA:Menteri PU Bongkar ASN Eselon IV Terlibat Judol Ratusan Juta
Di sisi lain, PPATK mencatat pemberantasan judi online mulai menunjukkan hasil. Untuk pertama kalinya sejak 2017, nilai perputaran dana judi online mengalami penurunan pada 2025.
Data PPATK menunjukkan nilai perputaran dana judi online turun dari Rp 359,81 triliun pada 2024 menjadi Rp 286,84 triliun pada 2025 atau berkurang sekitar 20 persen. Nilai deposit juga menurun dari Rp 51,3 triliun menjadi Rp 36,01 triliun.
Setelah terus meningkat setiap tahun sejak 2017, penurunan nilai perputaran dana judi online pada 2025 menjadi catatan bersejarah. Capaian ini tidak terlepas dari ketegasan Presiden Prabowo Subianto dalam memimpin perang melawan judi online dan menggerakkan seluruh unsur pemerintah untuk bekerja secara serentak, ungkap Kepala PPATK Ivan Yustiavandana dalam keterangan tertulis, Jumat (24/7/2026).
Meski demikian, PPATK mengingatkan aktivitas judi online masih terus berlangsung. Pada triwulan I 2026, nilai perputaran dana judi online masih mencapai Rp 40,3 triliun dengan total deposit sebesar Rp 10,59 triliun. Pola transaksinya pun semakin sering, tersebar, dan menggunakan nominal yang lebih kecil.



/2022/06/22/672344487.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306718/original/058449000_1784892052-sp_2814426.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4753178/original/094284500_1708925901-IMG-20240226-WA0050.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3146805/original/023865600_1591608597-Foto_01.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5141795/original/033372800_1740384430-visimisi-min.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5539267/original/091129700_1774595159-IMG-20260327-WA0004.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4013694/original/080364800_1651632347-000_329D9VK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3149800/original/042221500_1591853664-20200611-Harga-Emas-Antam-Naik-ANGGA-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3975040/original/077790600_1648205648-20220325-Harga-emas-pegadaian-naik-ANGGA-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306958/original/054761000_1784945184-ChatGPT_Image_Jul_25__2026__09_06_13_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740421/original/097240200_1707701801-fotor-ai-202402128340.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2947434/original/027332300_1571819804-Ilustrasi_Goldman_Sachs__AFP_PHOTO_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5323535/original/084422800_1755774380-Gemini_Generated_Image_p11luwp11luwp11l.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5027996/original/052986200_1732861136-fotor-ai-20241129131637.jpg)