Jakarta – Otoritas Jepang menghabiskan dana 15,4 triliun yen atau US$ 96,5 miliar (Rp 1.713 triliun, asumsi kurs dolar AS terhadap rupiah di 17.760). Nilai itu tertinggi yang pernah tercatat untuk intervensi di pasar valuta asing selama sebulan terakhir, berdasarkan data Kementerian Keuangan. Dana tersebut digelontorkan untuk menopang yen.
Mengutip Channel News Asia, ditulis Minggu, (30/8/2026), besarnya intervensi ini mencerminkan tekat kuat Jepang untuk mengangkat nilai yen dari level terendah dalam empat dekade. Pelemahan ini mengancam keuntungan perusahaan eksportir besar Jepang serta meningkatkan biaya impor, termasuk energi.
BACA JUGA:Ketemu Gibran, Ini Oleh-Oleh Peserta Magang Kenshusei
BACA JUGA:Perusahaan Jepang Beli 20% Saham Ajaib Senilai US$ 270 Juta
BACA JUGA:Unik, 1.800 Warga Jepang Gotong Royong Tarik Kastel 360 Ton
Jepang mengimpor hampir seluruh kebutuhan energi, dengan 95% di antaranya berasal dari Timur Tengah, sehingga negara ini rentan terhadap gangguan pasokan akibat konflik yang melibatkan Iran.
Namun, langkah pengetatan kebijakan Bank of Japan (BOJ) yang relatif lambat membuat suku bunga Jepang tetap rendah dibandingkan dengan pasar seperti Amerika Serikat, sehingga mendorong investor untuk terus mendanai perdagangan global menggunakan yen yang berbiaya rendah.
BOJ mempertahankan suku bunga tetap stabil pada pertemuan terakhirnya pada Juli, meskipun para pembuat kebijakan telah mengisyaratkan kesiapan untuk mempercepat pengetatan. Pasar sendiri memperkirakan adanya peluang sebesar 65% untuk kenaikan suku bunga pada pertemuan berikutnya pada September.
Ada Intervensi Gabungan
Data Kementerian Keuangan Jumat mencakup total nilai intervensi untuk periode 30 Juli hingga 26 Agustus. Rincian harian yang mendalam baru akan tersedia setelah angka kuartalan dirilis, kemungkinan pada awal November.

/2020/05/17/344703089.jpg)
/2025/07/21/1137651184.jpg)
/2018/07/19/397622532.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324396/original/040091600_1786701875-13534.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3755326/original/042106700_1639969079-OJK_Sardjito.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296727/original/008242400_1784022507-3fa60472-8dcd-43de-8f2d-dc9c188e0f52.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9320316/original/034290200_1786344835-Menko_Bidang_Perekonomian_Airlangga_Hartarto-10_agustus_2026b.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3324621/original/092329900_1608026628-20201215-Harga-emas-terus-turun-ANGGA-6.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3172730/original/061289100_1594117388-20200707-Harga-Emas-Pegadaian-Naik-Rp-4.000-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3352147/original/086289000_1610959706-20210118-Emas-Antam-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336058/original/078757900_1788099807-c8aa79cc-f278-4edd-bf0c-ab5f1bf8ebbc.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4762236/original/071720400_1709618206-fotor-ai-2024030512563.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5310039/original/090428800_1754652469-Upbit_2.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5119143/original/000941200_1738566772-XRP_illustration_alternative.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5027992/original/041439300_1732861105-fotor-ai-2024112913176.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4089307/original/075313700_1657837181-Harga_Emas_Hari_Ini.jpeg)