Jakarta – Pemerintah India resmi menaikkan bea masuk impor emas dan perak menjadi 15% dari sebelumnya 6%. Kebijakan ini diambil di tengah meningkatnya tekanan terhadap mata uang rupee akibat lonjakan impor bullion dan kenaikan harga energi global.
Langkah tersebut diumumkan hanya beberapa hari setelah Perdana Menteri India, Narendra Modi, meminta masyarakat menahan pembelian emas selama setahun demi membantu menjaga stabilitas ekonomi negara.
BACA JUGA:Adu Glamor Isha Ambani Versus Radhika Merchant Bersari di Venice Biennale 2026
BACA JUGA:Sugiono Akan Bertolak ke India Hadiri Pertemuan Menlu Negara BRICS
BACA JUGA:Bea Cukai Soetta Gagalkan Penyelundupan Emas Rp 700 Juta, Modusnya Tak Terduga
Berdasarkan pemberitahuan resmi pemerintah pada Rabu, dikutip dari CNBC, Rabu (13/5/2026), India kini menerapkan bea cukai dasar sebesar 10% serta tambahan pajak 5% untuk impor emas dan perak.
India sendiri merupakan konsumen emas terbesar kedua di dunia setelah China. Namun tingginya minat masyarakat terhadap emas membuat tagihan impor negara itu terus meningkat.
Laporan World Gold Council yang dirilis bulan lalu menunjukkan rata-rata impor emas India melonjak menjadi 83 ton per bulan dalam dua bulan pertama 2026. Angka itu jauh lebih tinggi dibanding rata-rata 53 ton per bulan sepanjang 2025.
“Hal ini sebagian besar didukung oleh kuatnya permintaan investasi selama Januari,” tulis laporan tersebut.
Secara nilai, permintaan emas India hampir dua kali lipat secara tahunan pada kuartal pertama 2026 menjadi rekor USD25 miliar.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/1745873/original/051808600_1508495006-20171020-Rupiah-Menguat-Tipis-atas-Dolar-Angga-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5562097/original/092106500_1776779128-Menteri_Keuangan_Purbaya_Yudhi_Sadewa-21_April_2026b.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4875742/original/093303000_1719401842-20240626-Rupiah_Melemah-ANG_5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5453610/original/007869400_1766482737-1a2f8c2a-8c24-4682-9524-a65d9f0750e8.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5562645/original/032091900_1776835694-1000296203.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5700108/original/038248400_1778579903-IMG-20260512-WA0075.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5734873/original/051649600_1778630145-meskipun-ekspor-melemah-cadangan-devisa-ri-masih-meningkat.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4089307/original/075313700_1657837181-Harga_Emas_Hari_Ini.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5748550/original/098447200_1778648323-Bank_Indonesia__BI__mulai_memusnahkan_uang_rupiah_palsu.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5539267/original/091129700_1774595159-IMG-20260327-WA0004.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5706488/original/093486400_1778589639-1000315954.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5707007/original/003371200_1778590317-WhatsApp_Image_2026-05-12_at_18.46.38.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3980727/original/003754900_1648714870-20220331-Laporan-SPT-1.jpg)