Jakarta – Menteri Agama (Menag) Nasaruddin Umar menilai ekonomi halal sudah menanjak ke level raksasa. Terlihat dari data yang ia terima ekonomi halal global diperkirakan bernilai lebih dari USD 3 triliun atau Rp 51.419 triliun (asumsi dolar Amerika Serikat terhadap rupiah di 17.140)
Lantaran, kata dia, ekonomi halal sudah berada di berbagai sektor seperti makanan halal, keuangan syariah, kosmetik, hingga halal lifestyle. Semua sektor tersebut, menurut dia, kini menjadi arus utama ekonomi dunia.
BACA JUGA:Chairman B57+: Ekonomi Halal Bukan Sekadar Pangan
BACA JUGA:KEK Industri Halal Sidoarjo Jadi Incaran Investor Global
BACA JUGA:Industri Kosmetik dan Logistik Wajib Kantongi Sertifikat Halal Mulai 18 Oktober 2026
“Kita tidak bisa lagi melihat ekonomi halal hanya dari perspektif ibadah. Ini adalah industri raksasa. Menurut data proyeksi 2026, ekonomi halal global diperkirakan bernilai lebih dari USD 3 triliun,” katanya dalam halalbihalal di Masjid Istiqlal, Rabu (22/4/2026).
Nasaruddin Umar melihat tantangannya adalah sinergi antar-negara Organisasi Kerja Sama Islam (OKI) dalam perdagangan intra-blok yang masih perlu dioptimalkan. Maka dari itu, ia melihat B57+ sebagai jembatan melalui kolaborasi lintas batas yang bankable.
Sebagai Menteri Agama, dirinya berkomitmen penuh mendukung upaya ini. Ia menekankan, akan terus berperan sebagai penjaga nilai sekaligus mitra dalam memastikan bahwa ekosistem halal yang tidak hanya berdaya saing global, tetapi juga tetap kredibel secara syariat.
“Ekosistem ekonomi halal yang kuat hanya bisa tercipta jika seluruh elemen bergerak bersama, ujar dia.
Nasaruddin menegaskan, pemerintah akan menyediakan regulasi untuk mendukung gerakan ini. Sementara lembaga agama akan bergerak dalam menjaga standar moral dan etika.
“Dan sektor swasta menjadi mesin penggerak investasi dan inovasi,” ungkapnya.


/2025/10/06/1838782639.jpg)
/2025/10/22/1390853416.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5562794/original/015128400_1776840051-IMG_3789.jpeg)
/2025/03/10/810046101.jpg)
/2025/04/21/1136190158.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/976570/original/042706700_1441279137-harga-emas-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5204223/original/097954100_1745994907-IMG-20250430-WA0006.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5563080/original/090654600_1776846991-1000296431.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3354469/original/046829100_1611133736-20210120-PERTUMBUHAN-UANG-BEREDAR-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4924083/original/020178500_1724226549-Screenshot_20240821_140319_Samsung_Notes.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2053635/original/071518800_1522820303-20180404-BI-MER-AB2a.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4448954/original/060147200_1685534946-20230531-Jadwal-KRL-Commuterline-Tallo-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5562097/original/092106500_1776779128-Menteri_Keuangan_Purbaya_Yudhi_Sadewa-21_April_2026b.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1400474/original/063702300_1478686860-20161109--Donald-Trump-Unggul-Rupiah-Terpuruk-Jakarta-Angga-Yuniar-04.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4412749/original/008778900_1683024969-20230502-Polemik-Impor-KRL-Bekas-Tallo-2.jpg)