Jakarta – Kenaikan harga minyak dunia masih menjadi tantangan pada ekonomi Indonesia. Dampaknya tak hanya bisa mempengaruhi harga jual bahan bakar minyak (BBM) tapi juga biaya produksi industri Tanah Air.
Indonesia’s Head of Research DBS Group, William Simadiputra mencatat, harga minyak mentah dunia Brent masih bertahan di atas USD 100 per barel. Angka ini menandai belum meredanya ketegangan perang antara Amerika Serikat-Israel dan Iran.
BACA JUGA:Pendaftaran Kupon Subsidi BBM Gratis Jadi Jebakan Hoaks, Simak Penjelasan Pertamina
BACA JUGA:Shell Kembali Jual Solar usai Dipasok Pertamina, BBM Lain Masih Kosong
Ini menunjukkan bahwa belum ada kesepakatan di Timur Tengah, Selat Hormuz masih dalam kondisi yang tidak pasti apakah sudah dibuka atau ditutup, kata Willian dalam Outlook Ekonomi Indonesia dan Prospek Sektor Unggulan DBS secara daring, Rabu (13/5/2026).
Dia memandang kenaikan harga minyak dunia itu tak hanya akan mengerek harga BBM. Namun, turut berpengaruh ke biaya produksi, baik pengemasan hingga operasional perusahaan.
Sebenarnya kenaikan minyak itu bukan hanya kita melihat itu berdampak misalnya terhadap kenaikan BBM di pom bensin, tapi juga ini berdampak terhadap biaya-biaya produksi untuk dari packaging, dari perusahaan konsumer, dapat menaikkan juga harga soft commodity atau komoditas berkaitan, jelas dia.
Pada komoditas makanan misalnya, adanya dampak pada kenaikan harga produk turunan minyak sawit. Di sisi lain, perusahaan Indonesia juga dihadapkan pada tantangan keterbatasannya bahan baku impor sebagai dampak rembetannya.
Seperti ketersediaan bahan-bahan petrochemical, turunan minyak, gas LNG, dan juga mungkin ke depannya bisa mengakibatkan mungkin ada kelangkaan bahan-bahan seperti aluminium dan metal mining, di mana kalau jika perang ini berlangsung secara perkepanjangan. Jadi ini juga memberikan tantangan tersendiri buat Indonesia, tutur William.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/4844375/original/035062400_1716818807-huang_smiling_close_summit_2024_reduced_0.jpeg.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5562097/original/092106500_1776779128-Menteri_Keuangan_Purbaya_Yudhi_Sadewa-21_April_2026b.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5453610/original/007869400_1766482737-1a2f8c2a-8c24-4682-9524-a65d9f0750e8.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5562645/original/032091900_1776835694-1000296203.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5707007/original/003371200_1778590317-WhatsApp_Image_2026-05-12_at_18.46.38.jpeg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5700108/original/038248400_1778579903-IMG-20260512-WA0075.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5734873/original/051649600_1778630145-meskipun-ekspor-melemah-cadangan-devisa-ri-masih-meningkat.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4089307/original/075313700_1657837181-Harga_Emas_Hari_Ini.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5748550/original/098447200_1778648323-Bank_Indonesia__BI__mulai_memusnahkan_uang_rupiah_palsu.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5539267/original/091129700_1774595159-IMG-20260327-WA0004.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5706488/original/093486400_1778589639-1000315954.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3980727/original/003754900_1648714870-20220331-Laporan-SPT-1.jpg)