Jakarta – Perang antara Iran melawan Amerika Serikat (AS) dan Israel semakin memperburuk kondisi ekonomi Iran yang sebelumnya sudah rapuh. Konflik ini mendorong ekonomi negara tersebut ke jurang penurunan tajam.
Strategi utama Iran dalam konflik ini adalah menyerang sektor ekonomi lawan, termasuk infrastruktur energi negara tetangga serta melakukan blokade di Selat Hormuz—jalur vital yang sebelumnya dilalui sekitar 20% pasokan minyak dan gas dunia.
BACA JUGA:AS Pamer Kesiapan Militer, Trump Perpanjang Gencatan Senjata Dengan Iran
BACA JUGA:AS Dilaporkan Cegat Tiga Kapal Tanker Minyak Iran di Perairan Asia
BACA JUGA:Akan Berlangsung Lama? UE Sebut Krisis Akibat Perang AS-Iran Bisa Bertahun-Tahun
BACA JUGA:Iran Sita Kapal di Selat Hormuz, Pasar Energi Dunia Waspada
Namun, langkah tersebut justru berbalik menekan ekonomi Iran sendiri.
Dikutip dari CNBC, Kamis (23/4/2026), sebelum konflik, Iran sudah menghadapi tekanan berat akibat sanksi internasional. Inflasi bahkan telah melampaui 50% sepanjang 2025. Mata uangnya, rial, juga kehilangan sekitar 60% nilainya dalam beberapa bulan setelah konflik singkat dengan Amerika Serikat pada Juli tahun lalu.
Tekanan ekonomi semakin terlihat dari lonjakan harga kebutuhan pokok. Inflasi pangan di Iran mencapai 64% pada Oktober 2025, lalu melonjak menjadi 105% pada Februari 2026.
Harga roti dan sereal naik hingga 140%, sementara minyak dan lemak meningkat 219% dalam periode satu tahun hingga Maret 2026.
Untuk mengatasi krisis likuiditas, bank-bank di Iran bahkan mulai mengedarkan uang kertas dengan nominal 10 juta rial—terbesar dalam sejarah negara tersebut.
Dana Moneter Internasional atau International Monetary Fund memperkirakan ekonomi Iran akan menyusut 6,1% pada 2026 dengan inflasi mencapai 68,9%.
Nilai tukar rial kini merosot hingga sekitar 1,32 juta per dolar AS, mencerminkan tekanan besar terhadap stabilitas ekonomi negara tersebut.


/2026/02/21/1358728669.jpg)
/2025/03/06/38420056.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5562260/original/063294300_1776822644-Rosan_1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5562718/original/076507100_1776838015-Chairman_B57__Asia_Pasifik_Arsjad_Rasjid-22_April_2026c.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/976570/original/042706700_1441279137-harga-emas-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1601200/original/046758400_1495427422-Fintech.jpg)
/2025/05/14/252621507.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/1400471/original/026176400_1478686859-20161109--Donald-Trump-Unggul-Rupiah-Terpuruk-Jakarta-Angga-Yuniar-01.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5564221/original/031578300_1776930460-WhatsApp_Image_2026-04-23_at_12.16.10__1_.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4805340/original/093907000_1713432001-20240418-Kenaikan_Harga_Emas-HER_2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3532284/original/011004900_1628161432-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/976573/original/043185800_1441279137-harga-emas-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1095898/original/089936600_1451317331-Gedung-PPATK-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4172125/original/088962000_1664246266-pupuk_bersubsidi.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5527489/original/089112300_1773204270-Kepala_Staf_Kepresidenan__Muhammad_Qodari-11_Maret_2026a.jpg)