Jakarta – Rusia menjatuhkan sanksi kepada peneliti asal Inggris berusia 17 tahun, Alexander Browder, setelah investigasinya mengungkap dugaan transaksi kripto ilegal bernilai lebih dari US$ 110 miliar atau sekitar Rp 1.990 triliun (esrimasi kurs Rp 18.095 per dolar AS sepanjang 2025.
Alexander masuk dalam daftar sanksi Rusia bersama empat warga negara Inggris lainnya, termasuk jurnalis Katherine Belton. Namun, remaja tersebut justru menilai langkah Rusia itu sebagai bukti bahwa penelitiannya mendapat perhatian dari pihak-pihak yang terkait dengan jaringan yang ia investigasi.
BACA JUGA:Kronologi Terungkapnya Bule Rusia Bawa 7,8 Kg Narkoba ke Bali
BACA JUGA:Rusia Digempur Ratusan Drone Ukraina saat SPIEF 2026, 1 Orang Tewas
BACA JUGA:Pengusaha Rusia Mengeluh Soal Suku Bunga Masih Tinggi
Dikutip dari CoinMarketCap, Minggu (7/6/2026), selama 18 bulan terakhir, Browder membangun apa yang disebutnya sebagai basis data sumber terbuka terbesar di dunia yang berfokus pada pencucian uang melalui aset kripto. Melalui proyek tersebut, ia melacak aliran dana digital di berbagai jaringan blockchain dan mengidentifikasi sejumlah pihak yang diduga terlibat dalam aktivitas keuangan mencurigakan.
Fokus utama penelitiannya adalah A7A5, sebuah stablecoin yang nilainya dipatok terhadap rubel Rusia. Stablecoin ini sebelumnya telah dikaitkan oleh otoritas Eropa dengan upaya penghindaran sanksi ekonomi.
Uni Eropa bahkan menjatuhkan sanksi terhadap A7A5 pada Oktober 2025. Menurut otoritas Eropa, aset digital tersebut digunakan sebagai sarana untuk menghindari pembatasan ekonomi yang diberlakukan terhadap Rusia terkait perang di Ukraina.




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5571829/original/093118300_1777704198-AP26122040085377.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4278948/original/099543400_1672614637-FOTO.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4198274/original/006305900_1666263447-Peningkatan_penggunan_jasa_transportasi_umum-ANGGA_3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3617285/original/012275200_1635503742-20211029-Neraca-perdagangan-RI-alamai-surplus-ANGGA-3.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3493167/original/008504900_1624612393-shutterstock_1654274959.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4750922/original/000470300_1708667884-WhatsApp_Image_2024-02-22_at_16.29.58__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816485/original/067351800_1714383642-fotor-ai-20240429133817.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5119143/original/000941200_1738566772-XRP_illustration_alternative.jpg)