Jakarta – Pertumbuhan ekonomi Indonesia yang mencapai 5,61% mendapat respons positif dari kalangan dunia usaha. Namun, di balik capaian tersebut, pelaku usaha mengingatkan adanya tantangan serius terkait keberlanjutan pertumbuhan dan kualitas struktur ekonomi nasional.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Kamdani, menilai pertumbuhan ekonomi yang tinggi di tengah pelemahan rupiah menunjukkan ketahanan permintaan domestik. Meski demikian, tekanan eksternal dinilai tetap menjadi ancaman yang tidak bisa diabaikan. Shinta mengatakan kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pelemahan rupiah mencerminkan dua kondisi berbeda yang terjadi secara bersamaan. Di satu sisi, fundamental ekonomi domestik masih cukup kuat, terutama dari sisi konsumsi masyarakat dan aktivitas ekonomi dalam negeri.
BACA JUGA:Investasi Mampu Serap 700 Ribu Lebih Tenaga Kerja di Awal 2026
BACA JUGA:8 Bulan Jadi Menteri Keuangan, Purbaya Pamer Ekonomi Indonesia Melesat
BACA JUGA:Wamendagri Wiyagus: Kendari Berpeluang Besar jadi Pusat Ekonomi dan Industri MICE Indonesia Timur
BACA JUGA:Purbaya Bilang Ekonomi RI Kini Lebih Canggih, Target Pertumbuhan 6 Persen Dipasang
Kombinasi antara pertumbuhan ekonomi yang tinggi dan pelemahan rupiah sebenarnya mencerminkan dua hal sekaligus, kata Shinta kepada Minggu (10/5/2026).
Menurut dia, kondisi tersebut menunjukkan adanya domestic demand resilience atau ketahanan permintaan domestik yang selama ini menjadi penopang utama ekonomi Indonesia.
Di satu sisi, ini menunjukkan bahwa fundamental domestik Indonesia masih cukup kuat, terutama dari sisi konsumsi dan aktivitas ekonomi dalam negeri. Ini adalah bentuk domestic demand resilience yang menjadi kekuatan utama ekonomi Indonesia, ujar dia.
Ia menilai, kekuatan konsumsi domestik menjadi faktor penting yang menjaga pertumbuhan tetap positif di tengah ketidakpastian global. Aktivitas ekonomi masyarakat yang tetap berjalan dinilai berhasil menopang sejumlah sektor usaha. Meski demikian, Shinta mengingatkan bahwa pertumbuhan yang tinggi belum tentu mencerminkan penguatan struktural ekonomi secara menyeluruh.



/2026/02/14/83493240.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5315443/original/025283000_1755159355-85e5a3f3-54ad-4063-9005-e614275ec25f.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4424364/original/043323600_1683817182-LPG_3_Kg.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5570755/original/008909500_1777539453-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3980732/original/010029000_1648714878-20220331-Laporan-SPT-6.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3508215/original/097417800_1626078551-000_9ET4R8.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/976570/original/042706700_1441279137-harga-emas-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3532284/original/011004900_1628161432-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1369940/original/015660100_1476098427-20161010-Harga-emas-stagnan-di-posisi-Rp-599-Jakarta-AY3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3172729/original/052282800_1594117386-20200707-Harga-Emas-Pegadaian-Naik-Rp-4.000-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472770/original/094808400_1768375318-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3172730/original/061289100_1594117388-20200707-Harga-Emas-Pegadaian-Naik-Rp-4.000-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3149802/original/071712000_1591853665-20200611-Harga-Emas-Antam-Naik-ANGGA-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5662713/original/041586500_1778319973-Direktur_Operasi_Bisnis_Klasifikasi_PT_BKI__Persero___Arief_Budi-_9_Mei_2026a.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5662925/original/042593600_1778322120-Anthropic.jpeg)