Jakarta – Pendiri Evergrande China, Hui Ka Yan, divonis penjara seumur hidup pekan lalu oleh pengadilan China. Namun, keruntuhan sektor properti yang sudah memasuki tahun keenam, masih membebani perekonomian terbesar kedua di dunia. Krisis ini jadi sumber penderitaan bagi jutaan rumah tangga, sekaligus menghambat pertumbuhan ekonomi yang kini makin bergantung pada ekspor, dan memicu gesekan dagang baru bagi China.
Mengutip Strait Times, Senin, (24/8/2026), para analis pun mengaku belum bisa memastikan kapan krisis ini akan berakhir. Sejumlah pemilik rumah dan kreditor yang geram lewat komentar-komentar yang sempat tak disensor di media sosial mempertanyakan mengapa mantan miliarder yang menjadi simbol pasang surut pasar properti China, Hui Ka Yan, tidak dihukum mati usai dinyatakan bersalah atas berbagai tindak pidana, mulai dari penyalahgunaan dana hingga suap.
BACA JUGA:BI Jaga Likuiditas, Uang Primer Tumbuh 18,3% pada Juli 2026
BACA JUGA:Bank Indonesia Prediksi Ekonomi Indonesia 2026 Tumbuh 4,9%-5,7%
BACA JUGA:Bidik Ekonomi Tumbuh 6% di 2026, Ini Pekerjaan Rumah Pemerintah
BACA JUGA:DPR Minta Pemerintah Geser Tolok Ukur Keberhasilan Ekonomi
Enam tahun setelah regulator keuangan China menindak sektor properti yang sarat utang, penderitaan ini masih berlanjut. Jutaan unit properti yang belum rampung dibangun kini terbengkalai di seluruh China. Pemulihan harga rumah baru di kota-kota besar seperti Beijing dan Shanghai pun mandek, penjualan lahan merosot, dan penjualan properti juga aktivitas konstruksi anjlok makin cepat.
Di kota-kota kecil pedalaman, harga rumah bekas bahkan sudah turun hampir seperempat sejak 2020, yang ikut menekan daya beli masyarakat.
Ekonomi China tumbuh 4,3% pada tiga bulan hingga Juni 2026 dibandingkan periode sama tahun lalu, yang merupakan laju pertumbuhan terendah dalam lebih dari tiga tahun terakhir.
Mesin permintaan domestik yang dulu jadi andalan kini justru melambat, membuat China kian bergantung pada ekspor untuk mendongkrak pertumbuhan.
Surplus dagang China yang melonjak lebih dari dua kali lipat sejak 2019 memperparah ketegangan dagang dengan Uni Eropa dan Amerika Serikat. Kondisi ini memicu kekhawatiran akan terjadinya China Shock 2.0, karena ekspor China dinilai menggerus industri lokal di negara-negara mitra dagangnya.

/2025/12/22/1619509041.jpg)
/2018/07/27/207477276.jpg)
/2020/01/02/1398310780.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3755326/original/042106700_1639969079-OJK_Sardjito.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9324804/original/061846400_1786770379-WhatsApp_Image_2026-08-15_at_06.54.03.jpeg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331140/original/014913100_1787488689-ec52273d-fb22-4da2-9c5d-04a7e6cd0659.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4361081/original/023728500_1678967433-Angka_Kemiskinan_Meningkat-IQBAL_7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3424798/original/096154300_1617981220-pepi-stojanovski-MJSFNZ8BAXw-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8939330/original/040724700_1782965107-calender_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9331172/original/000459200_1787498492-Elmin_Roizer_Damanik.jpg)