Jakarta – Presiden Amerika Serikat Donald Trump menggambarkan rencana operasi AS di Venezuela secara sederhana: masuk, ambil minyak, lalu mulai mengekspor. Namun, pengalaman pahit perusahaan minyak besar (Big Oil) di Irak pascainvasi membuktikan bahwa kenyataan di lapangan jauh lebih rumit.
Dikutip dari CNN, Rabu (28/1/2026), pada 2003, Amerika Serikat menginvasi Irak dan menangkap pemimpinnya, Saddam Hussein. Lebih dari dua dekade kemudian, pasukan khusus AS menangkap mantan Presiden Venezuela Nicolás Maduro di Caracas. Keduanya sama-sama dikenal sebagai pemimpin otoriter yang menguasai cadangan minyak mentah bernilai miliaran barel.
BACA JUGA:Irak Akan Adili Militan ISIS yang Dipindahkan dari Suriah
BACA JUGA:Irak Umumkan Penarikan Penuh Pasukan AS dari Wilayah Federalnya
BACA JUGA:13 Januari 1993: Sekutu AS Lancarkan Serangan Terhadap Irak Selatan
Meski sekilas terlihat paralel, Venezuela menghadirkan konteks yang berbeda. Tidak ada perang terbuka, tidak ada pasukan AS di darat, dan sistem sosial-politiknya pun sangat berbeda. Namun, dampak pascainvasi Irak tetap menjadi pelajaran berharga bagi perusahaan minyak yang mempertimbangkan masuk ke Venezuela.
Para analis menilai, dibutuhkan waktu bertahun-tahun sebelum perusahaan minyak raksasa berani melakukan investasi besar di Venezuela. Salah satu alasannya, mereka harus menghadapi tantangan keamanan yang tidak terduga dan berpotensi sangat fluktuatif.
“Ini benar-benar akan menjadi gunung yang sangat, sangat sulit untuk didaki,” kata Bill Farren-Price, peneliti senior di Oxford Institute for Energy Studies.
“Upaya membangun kembali industri minyak — bahkan di negara produsen besar seperti Irak dan Venezuela — memerlukan waktu bertahun-tahun.”

/2025/11/11/586978816.jpg)
/2026/05/01/894509019.jpg)
/2026/03/25/1415589818.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3906035/original/015426100_1642415540-20220117-2022-proyeksi-Ekonomi-indonesia-tumbuh-5_2-persen-ANGGA-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309012/original/011632200_1785214700-Gemini_Generated_Image_5o6uim5o6uim5o6u.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4875743/original/064820600_1719401843-20240626-Rupiah_Melemah-ANG_6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9329624/original/018654900_1787286218-WhatsApp_Image_2026-08-19_at_19.12.18.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3188320/original/078196100_1595493634-20200723-Usai-Cetak-Rekor_-Harga-Emas-Antam-Kembali-Turun-IQBAL-2.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310806/original/096451100_1785371567-ChatGPT_Image_Jul_30__2026__07_24_25_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3352147/original/086289000_1610959706-20210118-Emas-Antam-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5219629/original/039640900_1747221144-20250514-Harga_Emas-ANG_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9330465/original/096790100_1787381171-4dcacb64-516e-41ba-b57b-d7d0d92d4e79.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816479/original/001937700_1714383474-fotor-ai-2024042913365.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2050779/original/091139900_1522730510-20180403-Bitcoin-AFP1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816485/original/067351800_1714383642-fotor-ai-20240429133817.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5119143/original/000941200_1738566772-XRP_illustration_alternative.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4723185/original/051536300_1705921815-fotor-ai-2024012218929.jpg)