Jakarta – Survei Harga Properti Residensial (SHPR) Bank Indonesia menunjukkan harga properti residensial di pasar primer tumbuh terbatas. Hal ini tecermin dari Indeks Harga Properti Residensial (IHPR) pada kuartal I 2026 yang tercatat sebesar 110, 60 tumbuh sebesar 0,62% (yoy), lebih rendah dibandingkan dengan 0,83% (yoy) pada triwulan IV-2025.
Perlambatan tersebut terutama dipengaruhi oleh perlambatan pertumbuhan harga rumah tipe menengah dan besar yang masing -masing mencatatkan indeks sebesar 113,56 dan 108, 14, kata Direktur Eksekutif Departemen Komunikasi BI Ramdan Denny Prakoso, dikutip dari laman BI, Sabtu (9/5/2026).
BACA JUGA:Penjualan Properti Merosot 25,67%, Survei BI Ungkap Penyebabnya
BACA JUGA:Cadangan Devisa Indonesia Turun Jadi USD 146,2 Miliar
BACA JUGA:Bank Indonesia Batasi Pembelian Dolar demi Perkuat Nilai Tukar Rupiah
Kedua tipe rumah tersebut masing -masing mencatatkan pertumbuhan sebesar 0,88 % (yoy) dan 0,50% (yoy ), melambat dibandingkan kuartal IV-2025 sebesar 1,12% (yoy) dan 0,72% (yoy).
Sementara itu, pertumbuhan harga rumah tipe kecil turut mencatatkan perlambatan dengan indeks sebesar 113, 91 tumbuh melambat sebesar 0, 61% (yoy) dibandingkan kuartal IV 2025 sebesar 0,76%(yoy).
Secara spasial, dari 18 kota yang disurvei, 10 kota di antaranya mengalami perlambatan pertumbuhan dan 3 kota mengalami penurunan IHPR secara tahunan. Perlambatan pertumbuhan harga salah satunya tercatat di Banjarmasin yang mengalami pertumbuhan 0,52%Â (yoy), setelah tumbuh sebesar 1,63% (yoy) pada kuartal sebelumnya.
Sementara itu, harga rumah di Surabaya pada triwulan I-2026 mencatatkan kontraksi yang semakin dalam sebesar 0, 27% (yoy) dibandingkan kuartal IV- 2025 yang terkontraksi 0,04% (yoy) . Di sisi lain, harga rumah di Padang dan Balikpapan meningkat dari kuartal sebelumnya masing -masing sebesar 0,17% (yoy) dan 0,43 % (yoy) , menjadi 1,21% (yoy) dan 1,44 % (yoy) pada kuartal I-2026.



/2024/10/08/516836979.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4066834/original/034753100_1656461868-Harga_Minyak_AFP.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8318107/original/002868700_1782186014-IMG_4971.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2375572/original/090361500_1538739773-20181005-Emas-Antam-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5027992/original/041439300_1732861105-fotor-ai-2024112913176.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5133410/original/3400_1739534894-DALL__E_2025-02-14_19.06.08_-_A_digital_illustration_of_stablecoins__featuring_Tether__USDT___USD_Coin__USDC___and_DAI._The_coins_are_displayed_in_a_futuristic_financial_setting_wi.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4826292/original/095830100_1715176226-fotor-ai-20240508204955.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/976571/original/042940100_1441279137-harga-emas-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3532289/original/028365400_1628161488-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4837495/original/096209800_1716195903-Harga_emas_cetak_rekor_tertinggi-ANGGA_3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4838233/original/057874200_1716263381-AP24141612292346.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028256/original/032953400_1732871460-fotor-ai-20241129161044.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4983417/original/043664500_1730112269-fotor-ai-20241028174231.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740422/original/078699100_1707701814-fotor-ai-2024021283356.jpg)