Jakarta – Uni Eropa (UE) telah menerima keuntungan tak terduga sebesar 1,4 miliar euro atau US$ 1,6 miliar (Rp 28,95 triliun, asumsi kurs euro terhadap rupiah di kisaran 20,690). Keuntungan itu didapatkan dari aset bank sentral Rusia yang tidak bergerak. Dana dari aset itu ditetapkan untuk mendukung Ukraina.
Demikian disampaikan Komisi Eropa pada Rabu, 5 Agustus 2026 yang dikutip dari Anadolu Agency, Kamis (6/8/2026). Langkah ini mengikuti transfer tahap sebelumnya sebesar 1,4 miliar euro pada Maret. Dengan demikian, total keuntungan tak terduga yang dihasilkan dari aset tidak bergerak menjadi 8 miliar euro atau US$ 9,3 miliar (Rp 165,48 triliun) sejak sanksi diberlakukan.
BACA JUGA:Menhub Sebut Investor China-Rusia Minat Bikin Jalur Kereta Trans Kalimantan
BACA JUGA:Bahlil Siapkan Kontrak Jangka Panjang Beli Minyak Mentah Rusia
BACA JUGA:Bank Rusia Kehabisan Uang Tunai, Anggaran Perang Terancam
BACA JUGA:OPEC+ Sepakat Naikkan Produksi Minyak Mulai September 2026
Rusia harus membayar atas kehancuran yang ditimbulkannya,” ujar Presiden Komisi Eropa Ursula von der Leyen.
Ia menambahkan, pihaknya memakai dana yang diperoleh dari aset-aset Rusia yang beku untuk Ukraina.
Kami menyediakan tambahan 1,4 miliar euro dari aset-aset tersebut untuk Ukraina,” kata dia.
Menurut Komisi UE, 95% dari dana yang diperoleh akan dialokasikan melalui the Ukraine Loan Cooperation Mechanism (ULCM), yang memberikan dukungan yang tidak dapat dibayar kembali untuk membantu Ukraina membayar kembali pinjaman bantuan keuangan makro Uni Eropa dan pembiayaan yang diberikan di bawah inisiatif pinjaman percepatan pendapatan luar biasa atau the Group of Seven (G7) Extraordinary Revenue Accelaration (ERA) Loans Initiative.
5% sisanya akan disalurkan melalui the European Peace Facility (EPF) atau Fasilitas Perdamaian Eropa untuk mendukung kebutuhan militer dan pertahanan Ukraina. Dana itu berasal dari bunga yang diperoleh dari saldo kas yang terkait dengan aset Bank Sentral Rusia yang tidak dapat bergerak di bawah sanksi Uni Eropa setelah dimulainya perang di Ukraina.


/2016/11/25/51215106.jpg)
/2024/09/01/577969006.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8140146/original/007601700_1780992313-1000343625.jpg)

:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/1043408/original/005104300_1446622303-20151104-OJK-AY-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8157523/original/061523700_1781011760-Menteri_Koordinator__Menko__Bidang_Perekonomian_Airlangga_Hartarto-9_Juni_2026a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9315875/original/032342100_1785900385-IMG_6262.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309011/original/063278500_1785214678-ChatGPT_Image_Jul_28__2026__07_13_04_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5472770/original/094808400_1768375318-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3271750/original/055065600_1603102549-20201019-Harga-Emas-Hari-Ini-Stabil-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4805342/original/023824600_1713432003-20240418-Kenaikan_Harga_Emas-HER_4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6998518/original/060608900_1779768813-AP26142827392886.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9313338/original/051092900_1785634551-ChatGPT_Image_Aug_2__2026__08_35_29_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9316602/original/067209500_1785976330-dims.apnews.webp)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309010/original/038477600_1785214604-ChatGPT_Image_Jul_28__2026__11_55_54_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9313343/original/089462800_1785635723-q1-glow.jpg)