wmhg.org – JAKARTA. Direktur Eksekutif Institute for Essential Services Reform (IESR), Fabby Tumiwa menyebut pencabutan PT Ormat Geothermal Indonesia sebagai pemenang lelang Wilayah Kerja Panasbumi (WKP) Telaga Ranu di Kabupaten Halmahera Barat, Provinsi Maluku Utara akan sulit dilakukan.
Secara teknis menurut Fabby, dalam proses bidding dalam WK Panas Bumi, tidak ada ketentuan perushaan dari negara tertentu dilarang untuk ikut ambil bagian.
Berdasarkan hasil bidding kan diputuskan Ormat yang menang. Kita harus melihat soal teknis, tidak ada persayaratan yang mewajibkan, misalnya perusahaan yang terafiliasi dengan Israel tidak boleh ikut, ungkap Fabby kepada Kontan, Rabu (18/02/2026).
Persyaratan dalam proses lelang tambah dia akan bersifat teknis dan komersial. Siapa pun perusahaan yang dapat mengembangkan WKP dan dapat menawarkan dengan harga terbaik berpotensi besar untuk menang.
Keputusannya tetap di Pemerintah, apakah ingin memastikan integritas lingkungan atau tidak. Di sana aturan-aturannya harus diperketat, dengan membentuk safeguard untuk panas bumi, ungkapnya.
IESR kata Fabby, tidak menampik bahwa pengembangan PLTP memiliki resiko lingkungan , misalnya berkaitan dengan keluarnya gas (H2S) Hidrogen Sulfida, hingga aktivitas seismik yang ditakutkan banyak masyarakat disekitar proyek.
Tapi, secara teknologi bisa diatasi, bisa ditekan. Yang saya kira yang harus dipertimbangkan justru Telaga Ranu ini adalah ancaman terhadap eksoistemnya, karena masuk dalam kawasan hutan dengan tingkat keanekaragaman tinggi, jelasnya.
Jadi menurut saya yang lebih penting dan harus dipertanyakan adalah adanya project itu di kawasan Telaga Ranu ini, tutupnya.
Selanjutnya: Purbaya Tunggu Arahan Prabowo soal Skema Bayar Utang Whoosh
Menarik Dibaca: Provinsi Ini Hujan Amat Lebat, Cek Peringatan Dini BMKG Cuaca Besok (19/2)
Cek Berita dan Artikel yang lain di Google News

/2025/08/31/663872302.jpg)
/2025/10/06/1838782639.jpg)
/2026/02/05/898319651.jpg)

:strip_icc()/kly-media-production/medias/5557560/original/040351900_1776334899-WhatsApp-Image-2026-04-15-at-19-41-45.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4347730/original/064079400_1678087559-20230306-Ekonomi-China-AP-7.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5558566/original/098264900_1776425951-IMG_3685.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5472767/original/057429900_1768375315-2.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/4826292/original/095830100_1715176226-fotor-ai-20240508204955.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2375574/original/030742400_1538739776-20181005-Emas-Antam-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2375572/original/090361500_1538739773-20181005-Emas-Antam-3.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/976573/original/043185800_1441279137-harga-emas-5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5558555/original/036340500_1776424754-Menteri_PKP__Maruarar_Sirait__saat_konferensi_pers_di_Wisma_Danantara-17_April_2026a.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1954437/original/003823600_1519994760-20180302-Dolar-AY1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4066834/original/034753100_1656461868-Harga_Minyak_AFP.jpg)