Jakarta – Harga emas dunia melemah pada perdagangan Selasa (Rabu waktu Jakarta), seiring aksi jual yang melanda pasar keuangan global dan meningkatnya ekspektasi bahwa bank sentral Amerika Serikat (The Fed) masih berpeluang menaikan suku bunga tahun ini.
Pelaku pasar kini menantikan rilis data inflasi Amerika Serikat (AS) yang dijadwalkan pada Rabu dan Kamis pekan ini.
BACA JUGA:The Fed: Stablecoin Bakal Memperluas Jangkauan Kebijakan Amerika Serikat
BACA JUGA:Rupiah Ditutup Melemah ke Rp 17.881 per Dolar AS
BACA JUGA:IHSG Sepekan Anjlok 8,35%, Analis Ungkap Penyebabnya
Dikutip dari CNBC, Rabu (10/6/2026), harga emas di pasar spot tercatat turun 0,7% menjadi US$ 4.298,75 per ons, setelah sempat merosot lebih dari 1% pada awal sesi perdagangan. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS untuk pengiriman Agustus melemah 0,9% menjadi US$ 4.323,90 per ons.
Analis senior pasar dari RJO Futures, Bob Haberkorn, mengatakan investor saat ini cenderung mengambil sikap hati-hati di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar.
“Para trader sedikit gugup dengan kondisi pasar saat ini. Hampir seluruh kelas aset mengalami aksi risk-off. Kondisi risk-off inilah yang saat ini menekan harga emas,” ujarnya.
Tekanan juga terjadi di pasar saham Amerika Serikat. Indeks Nasdaq Composite yang didominasi saham teknologi turun 0,9%, sementara indeks acuan S&P 500 melemah 0,4%.
Menurut Haberkorn, harga emas dan perak kemungkinan masih akan berada dalam tekanan hingga pasar memperoleh sinyal yang lebih jelas dari The Fed terkait arah kebijakan moneternya.
Setelah data ketenagakerjaan AS yang dirilis pekan lalu menunjukkan kondisi pasar tenaga kerja yang masih kuat, perhatian investor kini beralih ke data inflasi yang akan dirilis dalam beberapa hari ke depan. Data tersebut meliputi Indeks Harga Konsumen (CPI) Amerika Serikat untuk Mei yang akan diumumkan pada Rabu, serta Indeks Harga Produsen (PPI) pada Kamis.
Kedua data tersebut dinilai akan menjadi petunjuk penting bagi pasar dalam memperkirakan langkah The Fed selanjutnya terkait suku bunga.




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3626295/original/027885300_1636365579-8_november_2021-2.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1115402/original/035378100_1453179673-20160119-Buruh-Tembakau-AFP1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4384996/original/071120700_1680741641-IMG-20230405-WA0031.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6452974/original/020827300_1779317477-20150917141934-kisah-petani-kelapa-sawit-riau-bekerja-di-tengah-kabut-asap-006-isn.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8081766/original/010344300_1780927995-A21E2F91-5C8B-4922-8C08-0F4BC950ADCF.jpeg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2832426/original/059440700_1560940276-20190619-Rupiah-Menguat-di-Level-Rp14.264-per-Dolar-AS1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8197188/original/051768600_1781055569-3d91add3-64a3-4e95-a067-495458091562.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8199391/original/044217200_1781057893-2e1644af-b1c7-4f49-b303-61ec31cc4ece_1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4876292/original/002461400_1719462328-fotor-ai-20240627112338.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740419/original/047203600_1707701768-fotor-ai-202402128350.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5302025/original/025418900_1753969652-Gemini_Generated_Image_pok85upok85upok8.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4260905/original/096870900_1671007456-20221214-Sam-Bankman-Fried-AFP-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5133410/original/3400_1739534894-DALL__E_2025-02-14_19.06.08_-_A_digital_illustration_of_stablecoins__featuring_Tether__USDT___USD_Coin__USDC___and_DAI._The_coins_are_displayed_in_a_futuristic_financial_setting_wi.jpg)