Jakarta – Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate menjadi 5,5% pada hari ini, Selasa (9/6/2026). Para pengusaha melihat kenaikan suku bunga ini menjadi beban tambahan.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Kamdani menjelaskan, kenaikan ini dinilai berpotensi menambah beban biaya dunia usaha, terutama bagi perusahaan yang bergantung pada pembiayaan perbankan.
BACA JUGA:Chatib Basri: Pelemahan Rupiah Dapat Picu Kenaikan Harga
BACA JUGA:BI Rate Naik, Pengusaha Tahan Ekspansi Bisnis
BACA JUGA:Rupiah Ditutup Menguat, Sempat Sentuh Rp 17.983 per Dolar AS
BACA JUGA:BI Rate Naik Lagi, Investor Diminta Cermat Kelola Portofolio
Langkah Bank Indonesia bertujuan menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah gejolak ekonomi global. Namun, di sisi lain, pelaku usaha saat ini juga tengah menghadapi berbagai tekanan, termasuk meningkatnya biaya operasional akibat menguatnya dolar Amerika Serikat (AS).
Dunia usaha dalam beberapa waktu terakhir menghadapi tekanan dari berbagai sisi, mulai dari pelemahan rupiah, kenaikan biaya logistik global, harga energi, biaya impor bahan baku, biaya kepatuhan, hingga tekanan biaya pendanaan yang memang sudah relatif tinggi, ujar Shinta kepada Selasa (9/6/2026).
Menurut dia, kenaikan BI Rate akan berdampak langsung pada biaya pembiayaan perusahaan, khususnya bagi sektor usaha yang mengandalkan pinjaman bank untuk modal kerja maupun ekspansi usaha.
Kenaikan BI Rate ini tentu akan berdampak terhadap biaya pembiayaan usaha, khususnya bagi sektor yang sangat bergantung pada kredit perbankan, ujarnya.
Kenaikan suku bunga acuan pada akhirnya akan diteruskan secara bertahap ke suku bunga kredit perbankan, baik kredit modal kerja maupun kredit investasi, sambung Shinta.
Ia menambahkan, beban pembiayaan dunia usaha saat ini sudah cukup tinggi. Bunga pinjaman perbankan untuk pelaku usaha berada di kisaran 8% hingga 14%, tergantung profil risiko debitur, sektor usaha, serta skala perusahaan.




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4875742/original/093303000_1719401842-20240626-Rupiah_Melemah-ANG_5.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8067924/original/082139500_1780912668-Foto3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8011154/original/013585800_1780850911-IMG-20260607-027.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2752322/original/006653200_1552644717-20190314-Hiruk-Pikuk-Petani-Gorontalo-Sambut-Musim-Panen3.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2849790/original/043609100_1562754392-20190710-Rupiah-Stagnan-Terhadap-Dolar-AS3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3000972/original/026902200_1576748930-20191219-BI-Pertahankan-Suku-Bunga-Acuan-di-5-Persen-ANGGA-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2889634/original/024713600_1566465083-20190822-BI-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5128632/original/6000_1739254916-DALL__E_2025-02-11_13.21.11_-_A_futuristic_and_dynamic_digital_illustration_of_a_Shiba_Inu_dog_as_a_cryptocurrency_meme_token._The_Shiba_Inu_has_a_confident_and_playful_expression_.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816479/original/001937700_1714383474-fotor-ai-2024042913365.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4876282/original/004384100_1719462261-fotor-ai-2024062711133.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5302027/original/031341800_1753970046-Gemini_Generated_Image_8k5rmv8k5rmv8k5r.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1937629/original/026426200_1519626771-1.jpg)