Jakarta – Bank Indonesia (BI) memproyeksikan nilai tukar rupiah menguat ke kisaran Rp 17.300-Rp 17.800 per dolar Amerika Serikat (AS) pada 2027 seiring membaiknya ekonomi global, penguatan fundamental domestik, dan meningkatnya aliran modal ke pasar Indonesia.
Gubernur BI Destry Damayanti mengatakan penguatan rupiah pada 2027 akan ditopang lima faktor utama, yaitu perbaikan ekonomi global, fundamental ekonomi Indonesia, implementasi kebijakan devisa hasil ekspor (DHE), kebijakan stabilisasi BI, dan penguatan koordinasi fiskal-moneter.
BACA JUGA:Destry Damayanti Jadi Gubernur Bank Indonesia, DPR Pastikan Jalankan Pengawasan
BACA JUGA:Gubernur Terpilih BI Destry Damayanti Genjot Sinergi Fiskal-Moneter Jaga Inflasi
BACA JUGA:Gubernur Terpilih BI Destry Damayanti Tegaskan Stabilitas Ekonomi Jadi Prioritas
Pada tahun 2027, rupiah diperkirakan dalam tren menguat di kisaran Rp 17.300 hingga Rp 17.800, kata Destry dalam Raker DPR RI dengan pemerintah terkait pengantar asumsi dasar RUU APBN 2027 di Gedung DPR RI, Selasa (1/9/2026).
Destry mengatakan, ekonomi global diperkirakan tumbuh 3,3% pada 2027, meningkat dibandingkan proyeksi pertumbuhan 2026 sebesar 3%. Perbaikan tersebut diperkirakan mengurangi risiko geopolitik dan mendorong kembali aliran modal ke negara emerging market.
BI juga melihat fundamental ekonomi Indonesia akan semakin kuat pada 2027. Pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi, inflasi yang tetap berada dalam sasaran 2,5% plus minus 1%, neraca pembayaran yang sehat, dan imbal hasil investasi yang menarik akan menopang daya tarik aset Indonesia.
Implementasi kebijakan DHE SDA juga menjadi salah satu penopang penguatan rupiah. Destry mengatakan kebijakan tersebut dapat meningkatkan penerimaan devisa, memperkuat cadangan devisa, dan mendukung stabilitas nilai tukar.
“Implementasi kebijakan ekspor satu pintu dan implementasi PP DHE SDA diperkirakan akan meningkatkan penerimaan devisa dan penerimaan negara sekaligus memperkuat cadangan devisa dan nilai tukar rupiah,” ujar Destry.

/2023/05/14/264219921.jpg)
/2025/12/19/61195436.jpg)
/2025/05/16/900565566.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9337905/original/080023000_1788262588-Foto_1a__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336394/original/078782800_1788159760-3608754e-d6ef-45b9-bd54-e934752df7dd.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4834401/original/078687200_1715874903-WhatsApp_Image_2024-05-16_at_15.35.00.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9313338/original/051092900_1785634551-ChatGPT_Image_Aug_2__2026__08_35_29_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335614/original/003323700_1788006086-07212bc6-043e-4ef8-b108-f59056a20f2d.jpeg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3271752/original/024896400_1603102550-20201019-Harga-Emas-Hari-Ini-Stabil-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4805343/original/080058200_1713432003-20240418-Kenaikan_Harga_Emas-HER_5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310806/original/096451100_1785371567-ChatGPT_Image_Jul_30__2026__07_24_25_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4013694/original/080364800_1651632347-000_329D9VK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1937629/original/026426200_1519626771-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4983417/original/043664500_1730112269-fotor-ai-20241028174231.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4527216/original/053880700_1691248902-Kripto_9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028255/original/089063500_1732871319-fotor-ai-2024112916722.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/1043408/original/005104300_1446622303-20151104-OJK-AY-2.jpg)