Jakarta – Nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) loyo pada penutupan perdagangan Selasa, (1/9/2026). Analis menuturkan, tekanan rupiah itu didorong lonjakan harga minyak dunia yang didorong eskalasi konflik Amerika Serikat (AS) dengan Iran.
Mengutip Antara, nilai tukar rupiah terhadap dolar AS turun 22 poin atau 0,12% menjadi 17.744 per dolar AS dibandingkan penutupan sebelumnya di 17.722 per dolar AS.
BACA JUGA:Bidik Ekonomi Tumbuh 6%, Pemerintah Patok Rupiah 17.500 per Dolar AS
BACA JUGA:Rupiah Menguat ke 17.715 per Dolar AS, Investor Tunggu Data Inflasi
BACA JUGA:Rupiah Tertekan Konflik AS-Iran, Hari Ini Tembus 17.722 per Dolar AS
Kurs Jakarta Interbank Spot Dollar Rate (JISDOR) Bank Indonesia bergerak menguat di level 17.727 per dolar AS dari sebelumnya 17.746 per dolar AS.
Analis Bank Woori Saudara, Rully Nova menuturkan, koreksi rupiah terhadap dolar AS dibayangi lonjakan harga minyak menjadi US$ 91 per barel karena ketegangan konflik AS dengan Iran.
“Rupiah pada perdagangan hari ini melemah dipengaruhi oleh global kenaikan harga minyak seiring meningkatnya eskalasi konflik AS dan Iran,” tutur Rully.
Pasukan AS menghantam dua peluncur rudal Iran di Pulau Larak pada Minggu (30/8/2026), yang menandai serangan pertama terhadap wilayah Iran sejak akhir Juli.
Operasi tersebut, yang dilakukan setelah periode jeda selama sebulan dalam keterlibatan militer langsung, menargetkan sistem yang disinyalir sedang disiapkan untuk meluncurkan roket bermuatan ranjau laut ke Selat Hormuz.
Sebagai respons, Sputnik mengungkapkan bahwa pasukan bersenjata Iran dilaporkan melancarkan serangan terhadap posisi militer AS di Yordania.
Sentimen lain berasal dari meningkatnya ekspektasi inflasi dan kenaikan yield obligasi pemerintah AS.
Ekspektasi inflasi AS bulanan 0,39 persen dan 3,6 persen tahunan. Yield obligasi pemerintah AS 10 tahun naik 5,8 bps (basis points) menjadi 4,77 persen dan 20 tahun naik 6,7 bps menjadi 5,27 persen, ujar Rully.

/2023/05/14/264219921.jpg)
/2025/12/19/61195436.jpg)
/2025/05/16/900565566.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4151491/original/074141100_1662635695-Kenaikan-Harga-Beras-Imbas-BBM-Iqbal-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9336394/original/078782800_1788159760-3608754e-d6ef-45b9-bd54-e934752df7dd.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4834401/original/078687200_1715874903-WhatsApp_Image_2024-05-16_at_15.35.00.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9313338/original/051092900_1785634551-ChatGPT_Image_Aug_2__2026__08_35_29_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9335614/original/003323700_1788006086-07212bc6-043e-4ef8-b108-f59056a20f2d.jpeg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3271752/original/024896400_1603102550-20201019-Harga-Emas-Hari-Ini-Stabil-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4805343/original/080058200_1713432003-20240418-Kenaikan_Harga_Emas-HER_5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9310806/original/096451100_1785371567-ChatGPT_Image_Jul_30__2026__07_24_25_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4013694/original/080364800_1651632347-000_329D9VK.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1937629/original/026426200_1519626771-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4983417/original/043664500_1730112269-fotor-ai-20241028174231.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4527216/original/053880700_1691248902-Kripto_9.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028255/original/089063500_1732871319-fotor-ai-2024112916722.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/1043408/original/005104300_1446622303-20151104-OJK-AY-2.jpg)