Jakarta – Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) mencatat ada potensi pemutusan hubungan kerja (PHK) terhadap ribuan buruh. Perusahaan pengolah bahan baku kertas, produsen alas kaki sepatu, hingga komponen otomotif berpotensi mengurangi pekerja.
Presiden KSPI, Said Iqbal mengungkapkan, setidaknya ada potensi PHK dari empat perusahaan di Tanah Air. Keempatnya tersebar di Jawa, salah satunya ada pontensi PHK terhadap 2.500 karyawan PT Pabrik Kertas Indonesia (Pakerin).
BACA JUGA:Profil Said Iqbal, Buruh Pabrik Elektronik yang Kini Jadi Penasihat Presiden
BACA JUGA:Data KSPI: Ratusan Buruh Kena PHK di Mei 2026
BACA JUGA:Prabowo Bakal Resmikan Museum dan Rumah Singgah Marsinah di Nganjuk, Sabtu 16 Mei 2026
Ditemukan ada potensi ancaman 2.500 pekerja akan di PHK, 2.500 pekerja akan di PHK. PT Pakerin ini bubur kayu untuk produksi kertas, perusahaan besar, raksasa dia, dia perusahaan raksasa di Mojokerto, kata Said Iqbal dalam konferensi pers daring, Minggu (21/6/2026).
Sebabnya, simpanan modal kerja sekitar Rp 800 miliar hingga Rp 1 triliun milik PT Pakerin tertahan karena operasional Bank Prima dihentikan. Iqbal bilang, modal kerja perusahaan tersendat karen belum kembalinya simpanan dana di bank perekonomian rakyat (BPR) Prima Master Bank.
Bank Prima-nya dilikuidasi akibat operasional tidak sanggup lagi oleh OJK. Karena dia dilikuidasi makanya diambil alih oleh LPS, sengan demikian uang PT Pakerin, Rp 800 miliar sampai Rp 1 triliun itu diperkirakan, ya otomatis dibawah pengawasan OJK. Akibatnya apa? Ya produksi enggak bisa jalan, karena itu modal kerja yang berputar, beber Iqbal.
Ada dua opsi yang menurut dia bisa dijalankan. Yakni, mengembalikan dana untuk operasional perusahaan dan tidak PHK, atau mengalokasikan dana untuk membayar pesangon terhadap buruh jika dipilih PHK. Keduanya masih jadi bahan diskusi Said Iqbal.



/2025/10/07/2002674624.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5472769/original/036658900_1768375317-4.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4447121/original/056397600_1685440865-20230530-Pertumbuhan-Ekonomi-Indonesia-Angga-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4881569/original/094570800_1719967258-fotor-ai-2024070373820.jpg)





:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4013695/original/083702900_1651632388-000_329D9V2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2375572/original/090361500_1538739773-20181005-Emas-Antam-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3975040/original/077790600_1648205648-20220325-Harga-emas-pegadaian-naik-ANGGA-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/976573/original/043185800_1441279137-harga-emas-5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4674212/original/048639800_1701747087-thought-catalog-I0TDRP0fj6Y-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740422/original/078699100_1707701814-fotor-ai-2024021283356.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740421/original/097240200_1707701801-fotor-ai-202402128340.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740419/original/047203600_1707701768-fotor-ai-202402128350.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4876282/original/004384100_1719462261-fotor-ai-2024062711133.jpg)