Jakarta – Food and Agriculture Organization (FAO) kembali menempatkan Indonesia sebagai produsen beras terbesar di Asia Tenggara dan peringkat keempat dunia setelah India, China, dan Bangladesh.
“FAO kembali menempatkan Indonesia sebagai negara produsen beras tertinggi di Asia Tenggara dan juga menjadi tertinggi keempat dunia setelah India, China, dan Bangladesh, kata Kepala Badan Pangan Nasional sekaligus Menteri Pertanian Andi Amran Sulaiman dalam keterangannya, dikutip Sabtu (20/6/2026).
BACA JUGA:Bos Buruh Mau Hubungi Nike Buat Cegah PHK 4.000 Karyawan Pabrik
BACA JUGA:Purbaya: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia 5,61% Lampaui Negara G20
BACA JUGA:Simak Strategi Investasi Jelang Putusan MSCI Pekan Depan
Menariknya, dari empat negara produsen beras terbesar tersebut, hanya China dan Indonesia yang diproyeksikan mencatat pertumbuhan produksi pada periode mendatang.
Bahkan jika dibandingkan musim 2024/2025, Indonesia menjadi negara dengan lonjakan produksi paling besar pada periode 2025/2026. Kenaikan produksinya diperkirakan melampaui 4 juta ton, jauh di atas India yang bertambah 1,7 juta ton, Brasil 1,5 juta ton, dan Bangladesh 1,1 juta ton.
FAL menyoroti besarnya stok beras serta stabilnya harga di tingkat petani. Dalam dokumen Food Outlook edisi Juni 2026, FAO menyebut kenaikan stok beras Indonesia menjadi salah satu faktor yang menopang cadangan beras global. Stok beras dunia pada akhir musim 2026/2027 diperkirakan mencapai 213,8 juta ton, menjadi level tertinggi kedua dalam satu dekade terakhir.
Amran mengatakan, stok Cadangan Beras Pemerintah (CBP) yang dikelola Perum Bulog saat ini telah menembus 5,2 juta ton. Dengan kondisi tersebut, pemerintah menegaskan tidak ada rencana membuka keran impor beras konsumsi.
Stok kita per hari ini sekitar 5,2 juta ton dan dalam kondisi aman. Yang terpenting, sejak 2025 tidak ada izin impor beras medium yang diterbitkan hingga sekarang,” kata Amran.



/2026/02/18/395790444.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4447121/original/056397600_1685440865-20230530-Pertumbuhan-Ekonomi-Indonesia-Angga-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5115685/original/038623600_1738316872-IMG-20250131-WA0010.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4568454/original/005043500_1694165723-1New.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4918526/original/006206100_1723675086-Pertamina.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3532284/original/011004900_1628161432-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3172729/original/052282800_1594117386-20200707-Harga-Emas-Pegadaian-Naik-Rp-4.000-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4881569/original/094570800_1719967258-fotor-ai-2024070373820.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5472769/original/036658900_1768375317-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028254/original/041675300_1732871304-fotor-ai-2024112916726.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740419/original/047203600_1707701768-fotor-ai-202402128350.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028256/original/032953400_1732871460-fotor-ai-20241129161044.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028255/original/089063500_1732871319-fotor-ai-2024112916722.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816479/original/001937700_1714383474-fotor-ai-2024042913365.jpg)