Jakarta – Konsumsi air minum dalam kemasan (AMDK) di Indonesia sangat timpang antarwilayah. Data BPS menunjukkan proporsi rumah tangga yang menjadikan air kemasan bermerek dan air isi ulang sebagai sumber air minum utama jauh lebih tinggi di provinsi-provinsi urban seperti DKI Jakarta dan Kalimantan Timur, dibanding wilayah dengan akses distribusi yang lebih terbatas.
Air minum dalam kemasan sering dianggap sebagai kebutuhan yang merata di seluruh Indonesia karena mudah ditemukan di warung, minimarket, sampai gerobak keliling. Tapi data Badan Pusat Statistik (BPS) lewat Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) menunjukkan gambaran yang jauh lebih timpang: di sejumlah provinsi, lebih dari 8 dari 10 rumah tangga mengandalkan air kemasan atau isi ulang sebagai sumber minum utama, sementara di wilayah lain proporsinya jauh lebih rendah karena rumah tangga masih mengandalkan sumur atau mata air terlindung.
Artikel ini merangkum data BPS terkini soal proporsi rumah tangga pengguna air kemasan secara nasional, provinsi-provinsi dengan tingkat penggunaan tertinggi yang datanya terverifikasi, serta pola umum yang menjelaskan kenapa jurang ini terjadi antarwilayah.
Data BPS: Berapa Rumah Tangga Indonesia yang Pakai Air Kemasan?
Berdasarkan Susenas Maret 2023, BPS mencatat 40,64% rumah tangga Indonesia, baik di perkotaan maupun perdesaan menjadikan air kemasan bermerek dan air isi ulang sebagai sumber air minum utama, menjadikannya sumber air minum yang paling banyak digunakan secara nasional, mengungguli sumur bor/pompa (17,07%) dan sumur terlindung (15,26%).
Perlu dicatat, definisi dan cara pelaporan BPS untuk kategori ini berubah dari waktu ke waktu: pada beberapa periode publikasi, air kemasan bermerek dan air isi ulang dilaporkan sebagai dua kategori terpisah (masing-masing berkontribusi sekitar 9-10% dan 30-36% dalam data periode berikutnya), sementara pada publikasi lain keduanya digabung menjadi satu angka seperti 40,64% di atas. Karena perbedaan cara pengelompokan ini, membandingkan angka dari tahun ke tahun perlu memperhatikan apakah kedua kategori tersebut digabung atau dipisah pada publikasi yang dirujuk.
Provinsi Pengguna AMDK Terbanyak
Berdasarkan data yang berhasil ditelusuri hingga level provinsi, dua wilayah berikut tercatat memiliki proporsi pengguna air kemasan/isi ulang tertinggi di Indonesia:
Catatan: kedua angka berasal dari periode survei yang berbeda karena keterbatasan data yang tersedia untuk publik pada periode yang sama persis; keduanya tetap menggambarkan pola yang konsisten, yaitu proporsi pengguna AMDK yang sangat tinggi di wilayah urban dan wilayah dengan jaringan distribusi ritel yang padat.
Di tingkat kabupaten/kota, data Susenas Maret 2025 untuk Kalimantan Timur menunjukkan variasi yang cukup lebar: Kabupaten Kutai Kartanegara mencatat proporsi tertinggi di provinsi itu dengan 93,08%, disusul Kota Bontang (89,73%). Sementara itu, sejumlah pemberitaan turut menyebut Kepulauan Riau dan Kalimantan Utara menunjukkan tren serupa (tinggi), meski angka pasti kedua provinsi tersebut belum berhasil kami telusuri ke rilis resmi BPS pada saat artikel ini ditulis.
Wilayah dengan Konsumsi Air Kemasan Rendah: Pola Umum
Untuk sisi sebaliknya, yaitu provinsi dengan proporsi pengguna AMDK paling rendah pola nasional menunjukkan wilayah dengan jaringan distribusi ritel yang lebih jarang dan infrastruktur perpipaan yang belum merata — umumnya di kawasan timur Indonesia dan wilayah dengan kepadatan penduduk rendah — cenderung lebih mengandalkan sumur bor/pompa atau mata air terlindung sebagai sumber air minum utama, alih-alih air kemasan.
Bagi Anda yang membutuhkan angka pasti per provinsi untuk kebutuhan riset atau kutipan langsung disarankan merujuk tabel resmi BPS Distribusi Persentase Rumah Tangga Menurut Provinsi dan Sumber Air Minum yang dipublikasikan di situs bps.go.id, karena tabel interaktif tersebut memuat rincian 34 provinsi secara lengkap.
Analisis: Kenapa Jurang Ini Terjadi?
Beberapa faktor yang secara umum menjelaskan tingginya proporsi pengguna AMDK di provinsi seperti DKI Jakarta dan Kalimantan Timur:
- Kepadatan jaringan distribusi ritel. Wilayah urban dengan kepadatan minimarket, warung, dan agen galon yang tinggi membuat akses ke air kemasan jauh lebih mudah dibanding mengelola sumur sendiri.
- Kualitas air tanah/perpipaan lokal. Di sejumlah wilayah pesisir dan perkotaan padat, kualitas air tanah maupun jaringan perpipaan kerap dianggap kurang layak untuk dikonsumsi langsung, mendorong rumah tangga beralih ke air kemasan sebagai alternatif yang dianggap lebih terjamin.
- Daya beli dan urbanisasi. Wilayah dengan tingkat urbanisasi dan pendapatan rumah tangga lebih tinggi umumnya lebih mampu menanggung biaya rutin membeli air kemasan dibanding investasi awal membangun sumur atau instalasi filtrasi sendiri.
- Keterbatasan infrastruktur di wilayah tertentu. Sebaliknya, di wilayah dengan jaringan distribusi ritel yang lebih jarang, rumah tangga cenderung kembali mengandalkan sumber air alami yang tersedia di sekitar mereka.
Kesimpulan
Data BPS menegaskan bahwa air kemasan dan air isi ulang kini menjadi sumber air minum utama bagi mayoritas rumah tangga Indonesia secara nasional, tetapi tingkat penggunaannya sangat timpang antarwilayah. Dari lebih 80% rumah tangga di provinsi seperti Kalimantan Timur, hingga proporsi yang jauh lebih rendah di wilayah dengan akses distribusi terbatas.
Jurang ini pada dasarnya mencerminkan kesenjangan infrastruktur distribusi dan kualitas sumber air alami antarwilayah, bukan semata perbedaan preferensi konsumen.Â
Baca berita terkini dan terpercaya di Berita Liputan6

/2025/12/02/1804168916.jpg)
/2023/09/27/2012639878.jpg)
/2024/01/03/663488771.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9339261/original/055528300_1788408907-email-attachment_2026_09_03_ariefhakim-at-klyid_gandeng-danantara-ojk-lapor-dpr-soal-aturan-bursa-mineral-dan-komoditas-strategis-pekan-depan_1000428599.jpg)


:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3484415/original/045108700_1623842085-20210616-NERACA-DAGANG-RI-SURPLUS-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9338310/original/032797500_1788323150-13771.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3271750/original/055065600_1603102549-20201019-Harga-Emas-Hari-Ini-Stabil-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4837497/original/097905500_1716195905-Harga_emas_cetak_rekor_tertinggi-ANGGA_1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4156440/original/071550200_1663062669-Emas4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3068178/original/077295500_1583319244-20200304-Dilanda-Corona_-IHSG-Ditutup-Melesat-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5302026/original/078434200_1753969683-Gemini_Generated_Image_wwcdvlwwcdvlwwcd.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9313338/original/051092900_1785634551-ChatGPT_Image_Aug_2__2026__08_35_29_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816484/original/039630500_1714383627-fotor-ai-2024042913407.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028257/original/063990300_1732871477-fotor-ai-20241129161040.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1937629/original/026426200_1519626771-1.jpg)