Jakarta – Regulasi yang eksesif pada produk legal dinilai menjadi \’karpet merah\’ bagi pertumbuhan rokok ilegal di Indonesia.
Ketua Umum Federasi Serikat Pekerja Rokok Tembakau Makanan Minuman – Serikat Pekerja Seluruh Indonesia (FSP RTMM-SPSI) Henry Wardana menjelaskan bahwa produk rokok ilegal memiliki risiko yang lebih tinggi. Hal ini akibat tidak transparannya bahan yang digunakan.
BACA JUGA:Mengintip Untung Rugi Aturan Kemasan Rokok Polos
BACA JUGA:Vape Intai Remaja, Kepala BPOM Minta Anak Muda Waspada
BACA JUGA:Gubernur Jawa Timur Tolak Aturan Kemasan Polos Rokok
Dia menambahkan peredaran rokok ilegal yang kian marak juga dipicu oleh regulasi yang tidak memihak sektor industri hasil tembakau (IHT) legal.
Menurutnya, segala peraturan yang semakin mengetatkan aturan rokok legal mengakibatkan semakin maraknya pertumbuhan rokok illegal yang berdampak pada menurunnya pendapatan negara dan juga PHK besar-besaran pada pekerja industri rokok.
“Konsumen akan tetap mencari rokok yang sesuai dengan selera rasa mereka. Jika rokok legal dilarang memiliki rasa, mereka akan lari ke rokok ilegal, tegas Henry, Senin (15/6/2026).
Di tengah kondisi ekonomi Indonesia yang tidak menentu, dan serapan tenaga kerja yang rendah, lanjut Henry, menciptakan lingkungan usaha yang stabil bagi pengusaha resmi, baik skala besar, menengah maupun kecil selayaknya menjadi perhatian.
Hal ini agar tenaga kerja yang ada di dalamnya dapat tetap mendapat penghidupan, konsumen memiliki pilihan yang beragam dan legal, dan negara mendapatkan manfaat dari cukai.




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/7675137/original/096948300_1780469988-1000336307.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5540726/original/026076100_1774789410-Chief_Operating_Officer__COO__Danantara__Dony_Oskaria-29_Maret_2026a.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8059621/original/040499800_1780903490-Menteri_Perdagangan__Mendag__Budi_Santoso-8_Juni_2026a.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3975025/original/099793100_1648205102-20220325-Harga-emas-pegadaian-naik-ANGGA-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3532289/original/028365400_1628161488-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5382999/original/069219700_1760612391-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,45,645,0)/kly-media-production/medias/4856444/original/021606300_1717750001-20240512_102627.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740421/original/097240200_1707701801-fotor-ai-202402128340.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740422/original/078699100_1707701814-fotor-ai-2024021283356.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1937629/original/026426200_1519626771-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816483/original/040342400_1714383611-fotor-ai-20240429134010.jpg)