Jakarta – Direktorat Jenderal Bea dan Cukai (DJBC) Kementerian Keuangan mengungkap penyebab utama penumpukan ribuan kontainer di Pelabuhan Tanjung Priok, Jakarta. Menurut otoritas kepabeanan, masalah tersebut bukan berasal dari proses administrasi bea cukai, melainkan karena perusahaan importir tidak segera mengeluarkan barang dari area pelabuhan.
Direktur Jenderal Bea dan Cukai Djaka Budhi Utama mengatakan seluruh proses pelayanan kepabeanan telah berjalan sesuai standar yang ditetapkan. Namun, setelah Surat Persetujuan Pengeluaran Barang (SPPB) diterbitkan, sejumlah perusahaan masih menunda pengangkutan barang keluar dari pelabuhan.
BACA JUGA:Distributor Tiffany & Co Kebut Proses Administratif Bea Cukai Bulan Ini
BACA JUGA:Bea Cukai Gagalkan Peredaran 8,26 Juta Batang Rokok Ilegal
BACA JUGA:Klarifikasi Raffi Ahmad Setelah Namanya Disebut dalam Kasus Bea Cukai BlueRay Cargo
“Keberadaan Bea Cukai sebagai lini terdepan di pelabuhan pada saat pelayanan keluar-masuk barang, sudah sesuai dengan dengan standar yang diharapkan oleh nasional,” kata Djaka dikutip dari Antara, Senin (15/6/2026).
Menurut dia, penumpukan justru terjadi setelah proses administrasi kepabeanan selesai dilakukan.
“Namun, ketika kontainer-kontainer tersebut sudah mengalami pengeluaran barang, ini masih terjadi penumpukan karena para pelaku tidak dengan segera melakukan pengeluaran,” ujarnya.
Djaka menjelaskan kondisi tersebut berdampak pada tingginya jumlah kontainer yang masih berada di kawasan pelabuhan, sehingga berpotensi memengaruhi kelancaran arus logistik dan waktu tinggal barang atau dwelling time.




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8259829/original/027634600_1781514561-1000349519.jpg)



:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4594243/original/089058400_1696137886-andre-francois-mckenzie-iGYiBhdNTpE-unsplash.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3975025/original/099793100_1648205102-20220325-Harga-emas-pegadaian-naik-ANGGA-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3532289/original/028365400_1628161488-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5382999/original/069219700_1760612391-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4723188/original/034031500_1705921925-fotor-ai-20240122181144.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-gray-landscape-new.png,45,645,0)/kly-media-production/medias/4856444/original/021606300_1717750001-20240512_102627.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740421/original/097240200_1707701801-fotor-ai-202402128340.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740422/original/078699100_1707701814-fotor-ai-2024021283356.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1937629/original/026426200_1519626771-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816483/original/040342400_1714383611-fotor-ai-20240429134010.jpg)