Jakarta – Bank Indonesia (BI) kembali menaikkan suku bunga acuan atau BI Rate 25 basis poin (bps) menjadi 5,75% dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG) Juni 2026. Langkah ini dinilai sebagai upaya agresif tetapi diperlukan untuk menjaga stabilitas nilai tukar rupiah di tengah ketidakpastian ekonomi global.
Research & Education Coordinator Valbury Asia Futures, Nanang Wahyudin, mengatakan kenaikan BI-Rate yang dilakukan secara beruntun menunjukkan fokus bank sentral untuk memperkuat ketahanan rupiah terhadap tekanan eksternal sekaligus menjaga stabilitas makroekonomi.
BACA JUGA:Mirae Asset Prediksi Bank Indonesia Bakal Naikkan Suku Bunga Lagi
BACA JUGA:BI Rate Naik Jadi 5,75%, Ini Untung Ruginya buat Kantong Anda
BACA JUGA:BI Rate Kembali Naik, Pengamat Sebut Rupiah Masih Loyo
Menurut Nanang, salah satu dampak utama dari kenaikan suku bunga adalah memberikan dukungan terhadap nilai tukar rupiah yang sebelumnya sempat mengalami tekanan cukup besar sejak awal tahun. Selain itu, kebijakan tersebut juga berpotensi meningkatkan daya tarik instrumen keuangan domestik di mata investor asing.
Ia menjelaskan, kenaikan BI-Rate akan mendorong peningkatan imbal hasil berbagai instrumen keuangan seperti Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) dan Surat Berharga Negara (SBN), sehingga dapat menarik kembali aliran modal asing ke pasar keuangan nasional.
Pelemahan rupiah yang sempat menyentuh angka mengkhawatirkan sejak awal tahun kini mulai menunjukkan perbaikan dan relatif lebih stabil. Selisih suku bunga yang menarik ini akan memicu kembalinya aliran modal asing (capital inflow) ke pasar keuangan dalam negeri, yang secara otomatis menambah pasokan valuta asing (dolar AS) dan memperkuat fundamental Rupiah ke depan,” ujarnya kepada www.wmhg.org, Jumat (19/6/2026).
Di sisi lain, Nanang mengingatkan, kebijakan suku bunga tinggi juga memiliki konsekuensi bagi sektor riil. Kenaikan BI Rate berpotensi mendorong kenaikan biaya pinjaman bagi masyarakat maupun pelaku usaha, mulai dari kredit pemilikan rumah (KPR), kredit kendaraan bermotor hingga kredit modal kerja.



/2022/10/21/1088047155.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4951810/original/086727300_1727167419-publikasi_1709802129_65e9829134bc6.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5247508/original/065942500_1749538198-pildun.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4668821/original/000742500_1701320491-yuri-krupenin-S2FVm0tOv1w-unsplash.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4447121/original/056397600_1685440865-20230530-Pertumbuhan-Ekonomi-Indonesia-Angga-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4881569/original/094570800_1719967258-fotor-ai-2024070373820.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5472767/original/057429900_1768375315-2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3149801/original/005983200_1591853665-20200611-Harga-Emas-Antam-Naik-ANGGA-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/8263145/original/015259900_1781860508-WhatsApp_Image_2026-06-19_at_15.08.07.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3546822/original/083135400_1629502044-063_957037002.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816480/original/079795300_1714383491-fotor-ai-2024042913369.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4876379/original/036269200_1719466194-fotor-ai-2024062712298.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816483/original/040342400_1714383611-fotor-ai-20240429134010.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740419/original/047203600_1707701768-fotor-ai-202402128350.jpg)