Jakarta – Departemen Keuangan Amerika Serikat (AS) meminta bank-bank AS dan lembaga keuangan lainnya untuk memantau jaringan pencucian uang Iran yang dicurigai memakai dana untuk menyelundupkan minyak yang dikenai sanksi melalui perusahaan cangkang dan jaringan kripto.
Mengutip AP, ditulis Selasa (12/5/2026), langkah ini, yang secara efektif menugaskan sistem keuangan global untuk membantu menganggu infrastruktur untuk menghindari sanksi Iran. Hal ini terjadi ketika AS dan Iran mencapai jalan buntu lain mengenai cara mengakhiri perang. Sementara itu, gencatan senjata semakin goyah.
BACA JUGA:Trump: Gencatan Senjata dengan Iran dalam Kondisi Kritis
BACA JUGA:Perang Iran Hambat Distribusi Pupuk, Puluhan Juta Orang Terancam Kelaparan
BACA JUGA:Uni Eropa Sepakati Sanksi yang Tertunda terhadap Pemukim Israel
BACA JUGA:Gara-gara Ucapan Trump, Harga Minyak Dunia Kembali Tembus USD 104
Pada Senin, 11 Mei 2026, Presiden AS Donald Trump menuturkan, gencatan senjata Iran berada dalam kondisi kritis setelah ia menolak proposal terbaru Iran untuk mengakhiri perang.
Pemerintahan Trump meminta bank untuk menandai nasabah tertentu yang mungkin melakukan pencucian uang untuk Garda Revolusi Iran, termasuk perusahaan-perusahaan yang baru dibentuk yang memindahkan sejumlah besar uang yang tidak biasa, perusahaan-perusahaan yang menyalurkan pembayaran melalui banyak perantara atau transaksi yang terhubung dengan perusahaan kripto di antara indikator lainnya.
Sebagai bagian dari inisiatif Amerika Serikat untuk mengawasi penjualan minyak Iran, bank juga diminta mengawasi minyak yang diberi label “Malaysian blend” atau campuran Malaysia untuk menyamarkan asal Iran-nya, dokumen pengiriman yang hilang atau dipalsukan atau transfer minyak antara kapal yang mengaburkan asal kargo itu.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5465119/original/098310200_1767759673-1000200039.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1129521/original/070433500_1454399964-20160202-Reaksi-Presiden-FSPMIKSPI-Terkait-Tutupnya-Dua-Perusahaan-Raksasa-Elektronik-Helmi-tebe-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5523351/original/063455500_1772803904-Menteri_Keuangan_Purbaya_Yudhi_Sadewa-6_Maret_2026c.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5686091/original/043743900_1778559896-1000315779.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/781851/original/087607700_1418807496-nickel.jpg)





:strip_icc()/kly-media-production/medias/5579577/original/079405700_1778057267-7.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4875742/original/093303000_1719401842-20240626-Rupiah_Melemah-ANG_5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1954437/original/003823600_1519994760-20180302-Dolar-AY1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5186932/original/075074000_1744629098-20250414-Harga_Emas_Batangan-AFP_5.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3352150/original/028984100_1610959709-20210118-Emas-Antam-4.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5542609/original/067408900_1774947977-WhatsApp_Image_2026-03-31_at_14.15.23.jpeg)