Jakarta – Bank Indonesia (BI) merestui penyimpanan devisa hasil ekspor sumber daya alam (DHE SDA) tak hanya menggunakan mata uang dolar Amerika Serikat (AS). Dana DHE SDA wajib diparkirkan di bank BUMN selama 12 bulan.
Gubernur BI, Perry Warjiyo mengungkapkan skema term deposit memungkinkan valuta asing (valas) ditempatkan di Himpunan Bank Negara (Himbara) dengan tenor mencapai 12 bulan. Selain menggunakan dolar AS, Perry menyontohkan bisa menggunakan Yuan China.
BACA JUGA:Denyut Kehidupan Jakarta di Tengah Melemahnya Nilai Tukar Rupiah
BACA JUGA:Dolar AS Menguat dan Rupiah Tertekan, Apa Pengaruhnya ke Warga Indonesia?
BACA JUGA:Kurs Rupiah Kembali Ditutup Melemah Hari Ini
BACA JUGA:Rupiah Masih Melemah, Harga Minyak Jadi Pemberat
“Mata uangnya juga kami perluas yang selama ini hanya dolar AS, sekarang kita juga perluas non-dolar AS. Karena seperti yang Bapak Ibu ketahui, kami sudah melakukan pendalaman pasar valas, di mana sekarang Chinese Yuan itu juga sudah ditransaksikan dalam negeri,” ujar Perry di Kantor Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian, Jakarta, Kamis (21/5/2026).
Hal ini sejalan dengan upaya memperdalam pasar valas domestik. Termasuk penggunaan mata uang lokal dalam transaksi atau local currency transaction (LCT) dengan China. Transaksi penggunaan yuan di Indonesia diakui Perry sudah mulai meningkat.
Pada 2025 lalu, transaksi dengan kurs lokal China mencapai USD 25 miliar per tahun. Sedangkan, pada tahun ini, nilainya sudah mencapai USD 3,7 miliar per bulan.
Kami sudah kerja sama dengan bank-bank ini, juga kerja sama dengan bank sentral di China bahwa di dalam negeri sudah ada (transaksi). Dengan kondisi tersebut, pelaku usaha yang memiliki yuan China kini dapat langsung melakukan berbagai transaksi di pasar domestik, mulai dari transaksi tunai (spot), swap, hingga forward, tutur Perry.




:strip_icc()/kly-media-production/medias/6503204/original/064180000_1779359875-WhatsApp_Image_2026-05-21_at_16.53.25.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6377629/original/006536800_1779252749-Rapat_DPR.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6451895/original/068053700_1779316601-perkuat-ekspor-pemerintah-guyur-lpei-rp-1-triliun.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5160378/original/069897800_1741795320-cacbe7cf-b221-491f-8ec9-d3ec31df7d43.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6387768/original/064593600_1779263008-IMG_4415.jpeg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/4881569/original/094570800_1719967258-fotor-ai-2024070373820.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5562645/original/032091900_1776835694-1000296203.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5453610/original/007869400_1766482737-1a2f8c2a-8c24-4682-9524-a65d9f0750e8.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/6377603/original/049341500_1779252733-Prabowo_DPR_Paripurna.jpeg)