Jakarta – Bank Sentral Singapura secara tak terduga memperketat kebijakan moneternya. Langkah ini merupakan kedua kali dilakukan negara tersebut secara berturut-turut. Pengetatan moneter diambil sebagai antisipasi terhadap lonjakan kembali harga minyak, meskipun inflasi di dalam negeri masih relatif terkendali.
Melansir laman CNBC, Senin (27/7/2026), Bank sentral Singapura memiliki cara yang unik dalam menjalankan kebijakan moneter, yakni dengan menyesuaikan nilai tukar mata uangnya alih-alih mengubah suku bunga domestik seperti yang dilakukan oleh banyak negara lainnya.
BACA JUGA:Top 3 Berita Hari Ini: 7 Concept Watches Power Design Project 2026
BACA JUGA:Singapura Bidik Wisatawan Keluarga Indonesia, Hadirkan Atraksi Baru hingga Promo Tiket Pesawat
Otoritas Moneter Singapura (Monetary Authority of Singapore/MAS) menetapkan arah pergerakan yang disebut sebagai pita kebijakan nilai tukar efektif nominal dolar Singapura (Singapore dollar Nominal Effective Exchange Rate/S$NEER).
Melalui kebijakan ini, MAS dapat memperkuat atau melemahkan nilai tukar dolar Singapura terhadap mata uang negara-negara mitra dagang utamanya.
Berbeda dengan sebagian besar bank sentral di dunia, MAS menjalankan kebijakan moneter dengan mengelola nilai tukar dolar Singapura terhadap sekeranjang mata uang berbobot dalam perdagangan yang tidak dipublikasikan, alih-alih menggunakan instrumen suku bunga.
Dalam lingkungan yang masih dipenuhi ketidakpastian tinggi, penyesuaian kebijakan yang terukur ini melanjutkan langkah pengetatan yang telah dilakukan pada April, kata MAS dalam pernyataannya.
Inflasi inti Singapura, yang tidak memasukkan biaya perumahan dan transportasi, naik menjadi 1,6% pada Juni dari 1,4% pada Mei. Angka tersebut masih berada di dekat batas bawah proyeksi inflasi inti MAS tahun ini yang berkisar 1,5%–2,5%, sementara inflasi umum (headline inflation) tercatat sebesar 1,9%.



/2023/05/14/1287541655.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4869298/original/087620500_1718880147-20240620-Bank_Indonesia-ANG_5.jpg)

:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306500/original/092748600_1784881065-email-attachment_2026_07_24_ariefhakim-at-klyid_menkeu-purbaya-panggil-dirut-pertamina-mau-bahas-pembatasan-bbm-subsidi-buat-orang-kaya_1000386716.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9304623/original/006883900_1784725061-WhatsApp_Image_2026-07-22_at_19.26.53.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309034/original/042929000_1785216371-1000390467.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4465921/original/038044100_1686733529-Deputi-Gubernur-Senior-Bank-Indonesia-Desty-Damayanti-Faizal-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4465923/original/041129700_1686733531-Deputi-Gubernur-Senior-Bank-Indonesia-Desty-Damayanti-Faizal-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9307844/original/031079500_1785116433-Mensesneg_Prasetyo_Hadi-27_Juli_2026a.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9307838/original/015020900_1785114910-IMG_6072.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4816485/original/067351800_1714383642-fotor-ai-20240429133817.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9306955/original/077151200_1784943871-Gemini_Generated_Image_5q73a05q73a05q73.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740419/original/047203600_1707701768-fotor-ai-202402128350.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4876292/original/002461400_1719462328-fotor-ai-20240627112338.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5133410/original/3400_1739534894-DALL__E_2025-02-14_19.06.08_-_A_digital_illustration_of_stablecoins__featuring_Tether__USDT___USD_Coin__USDC___and_DAI._The_coins_are_displayed_in_a_futuristic_financial_setting_wi.jpg)