Jakarta – World Bank atau Bank Dunia memperkirakan Kawasan Asia Timur dan Pasifik menghadapi tekanan berat dalam beberapa waktu ke depan, seiring meningkatnya risiko geopolitik global dan lonjakan harga energi.
Kepala Ekonom Kawasan Asia Timur dan Pasifik Bank Dunia, Aditya Mattoo, mengatakan kondisi ini dinilai menjadi salah satu faktor utama yang menahan laju pertumbuhan ekonomi di kawasan tersebut, terutama menjelang 2026.
BACA JUGA:Prediksi Purbaya Soal Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Kuartal II 2026
BACA JUGA:Bank Dunia: Ekonomi Indonesia Tangguh Hadapi Tekanan Harga Energi Global
Seperti yang Anda lihat, sebagian besar negara di kawasan ini akan mengalami pertumbuhan yang lebih lambat pada tahun 2026 dan telah terjadi pada tahun 2025, kata Mattoo dalam Laporan Perkembangan Ekonomi Terkini Asia Timur dan Pasifik, secara daring, Rabu (8/4/2026).
Ia mengungkapkan bahwa ketergantungan tinggi terhadap perdagangan dan energi membuat kawasan ini sangat rentan terhadap guncangan eksternal. Situasi global yang tidak menentu pun memperburuk prospek ekonomi secara keseluruhan.
Mattoo menyebut salah satu faktor utama yang membebani pertumbuhan adalah meningkatnya ketegangan geopolitik, khususnya konflik di Timur Tengah. Konflik ini tidak hanya berdampak pada stabilitas kawasan tersebut, tetapi juga memicu efek domino terhadap ekonomi global.
Kami mengidentifikasi faktor utama yang memengaruhi pertumbuhan di kawasan ini. Pertama, konflik di Timur Tengah. Kedua, berlanjutnya pembatasan perdagangan dan terutama iklim ketidakpastian kebijakan, ujarnya.
Ketidakpastian yang ditimbulkan dari konflik ini membuat pelaku pasar cenderung menahan ekspansi dan investasi. Akibatnya, aktivitas ekonomi di banyak negara Asia Timur-Pasifik ikut melambat.Ini adalah dua faktor negatif yang sangat memengaruhi kawasan kita karena ketergantungannya pada energi dan perdagangan, ujarnya.

/2026/01/28/1419203316.jpg)
/2026/02/08/1636791920.jpg)
/2022/02/23/885391879.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5541737/original/080028800_1774882683-IMG-20260330-WA0101.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5476090/original/021358800_1768711106-89ca5fc3-1578-4cf0-8176-b43ea2ccde53.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5520901/original/031279000_1772664806-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5137861/original/069279700_1739965706-f606fa8e-0760-495d-b7ab-a14b1eae5495.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5550878/original/068435800_1775710919-Gemini_Generated_Image_39m1m439m1m439m1.jpg)




:strip_icc()/kly-media-production/medias/5550464/original/070550700_1775698382-38039b87-fe4d-428a-8980-d1deb1609409.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/2439239/original/004031600_1542966203-20181123-Nilai-Tukar-Rupiah-Menguat-Atas-Dolar-Angga2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5551151/original/014052200_1775719526-WhatsApp_Image_2026-04-09_at_13.10.40.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5551448/original/064483400_1775726721-WhatsApp_Image_2026-04-09_at_16.05.45.jpeg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5550333/original/023387700_1775653134-PHOTO-2026-04-08-17-09-17.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5550332/original/018252100_1775653118-PHOTO-2026-04-08-17-09-19.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/5337503/original/092769700_1756899849-1001002551.jpg)