Jakarta – ASEAN Economist & Senior Vice President Global Economics and Markets Research UOB Indonesia, Enrico Tanuwidjaja mengungkap penyebab utama tekanan terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat bukan neraca perdagangan barang dan jasa yang justru surplus. Akan tetapi, tekanan rupiah dipicu defisit pendapatan primer (primary income deficit).
Perdagangan barang dan jasa, itu kita surplusnya hampir 5 tahun. Sekarang enggak apa-apa, jadi itu aman. Tapi yang kedua itu namanya primary income deficit, ujar Enrico pada UOB Media Circle 2026, Selasa (15/9/2026).
BACA JUGA:Rupiah Ditutup Nyaris Sentuh 17.700, Konflik Asia Barat Membebani
BACA JUGA:Rupiah Hari Ini Dibuka Melemah, Pasar Tunggu Dampak Suahasil Nazara
Ia menjelaskan, defisit ini muncul karena investor asing konsisten membawa keuntungan investasi ke negara asal setiap kuartal, alih-alih menanamkannya kembali di Indonesia.
Itu artinya kalau mereka invest, itu tiap kuartal itu dipulangkan terus. Itu angkanya konsisten dipulangkan terus, katanya.
Mengutip siaran pers resmi Bank Indonesia, defisit neraca pendapatan primer pada kuartal II 2026 meningkat seiring pembayaran pendapatan primer, sejalan dengan pernyataan Enrico soal pola pemulangan keuntungan investor asing.
Ia menegaskan, kunci mengecilkan defisit adalah reinvestasi, bukan menaikkan suku bunga untuk menarik dana asing dalam jangka pendek.
Saya bisa hedging tapi enggak hilang risikonya. Jadi kita perlu kepastian nilai tukar. Naik ke suku bunga itu short-term karena hot money masuk, tapi kemungkinan dia akan take profit lagi, ungkapnya.
/2026/05/21/1633191104.jpg)
/2026/02/12/1519123083.jpg)
/2026/05/25/465368173.jpg)
/2024/06/06/1661469723.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9349193/original/019160900_1789477848-1000442809.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4838233/original/057874200_1716263381-AP24141612292346.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5414819/original/052620000_1763352087-ilustrasi_perak.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9296727/original/008242400_1784022507-3fa60472-8dcd-43de-8f2d-dc9c188e0f52.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309013/original/069225700_1785214716-107347162-1702486289346-gettyimages-1852400117-_cf23021_tuz1gxpa.webp)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4013693/original/013633000_1651632346-000_329D9VG.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3352153/original/096135700_1610959711-20210118-Emas-Antam-7.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3192691/original/020094000_1595929324-20200728-Harga-Emas-Tembus-Rp-1-Juta-per-Gram-6.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3532284/original/011004900_1628161432-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-3.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9305546/original/010853000_1784797139-Meet_the_New_BitMEX_App_1200x675_en.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9313338/original/051092900_1785634551-ChatGPT_Image_Aug_2__2026__08_35_29_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4740422/original/078699100_1707701814-fotor-ai-2024021283356.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/1937629/original/026426200_1519626771-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9344766/original/032034000_1789000970-ChatGPT_Image_Sep_10__2026__07_42_04_AM.jpg)