Jakarta – Rencana Presiden Amerika Serikat, Donald Trump, untuk menaikkan tarif impor menjadi 15 persen memicu kekhawatiran terhadap kinerja ekspor Indonesia. Kebijakan tersebut dinilai berpotensi langsung menekan arus perdagangan, terutama bagi negara-negara yang selama ini menikmati tarif rendah atau bahkan nol persen ke pasar AS.
Ekonom dari Center of Economics and Law Studies (Celios), Nailul Huda, menjelaskan bahwa setiap kenaikan tarif impor sebesar 1 persen dapat menurunkan aktivitas impor sebesar 0,8 persen. Artinya, jika tarif dinaikkan hingga 15 persen, maka potensi penurunan aktivitas impor bisa mencapai 12 persen.
BACA JUGA:50,4% Publik Tak Setuju Indonesia Gabung Board of Peace
BACA JUGA:Kim Jong Un Kembali Pimpin Partai Buruh, Korea Utara Sanjung Pembangunan Nuklirnya
BACA JUGA:Bitcoin Anjlok di Bawah USD 65.000, Kebijakan Tarif Trump Picu Ketidakpastian
Tambahan tarif Impor sebesar 1 persen, akan menurunkan aktivitas impor sebesar 0,8 persen. Artinya, jika ada kenaikan tarif impor sebesar 15 persen, maka aktivitas impor (dari sisi negara tujuan) atau ekspor (dari sisi negara asal), akan berkurang sebesar 12 persen, kata Nailul Huda kepada Minggu (22/2/2026).
Dari sisi negara pengekspor seperti Indonesia, penurunan aktivitas impor AS berarti koreksi langsung terhadap kinerja ekspor. Jika sebelumnya produk Indonesia masuk dengan tarif nol persen, maka lonjakan tarif ini akan membuat daya saing harga melemah dan permintaan berpotensi turun signifikan.
Jadi, ketika diterapkan tarif secara global sebesar 15 persen, maka aktivitas ekspor Indonesia bisa terkoreksi hingga 12 persen jika yang tadinya mendapatkan tarif 0 persen, ujarnya.
Dampak terhadap RI
Nailul menyebut penurunan ekspor hingga 12 persen bukan angka kecil bagi perekonomian nasional. Produk-produk unggulan Indonesia yang selama ini bergantung pada pasar AS berisiko mengalami tekanan permintaan.
Selain itu secara makro, penurunan ekspor akan langsung memengaruhi neraca perdagangan Indonesia. Jika nilai ekspor turun sementara impor tetap stabil atau meningkat, surplus perdagangan bisa menyempit bahkan berbalik menjadi defisit.
Jadi, secara makro, kebijakan ini dapat menurunkan neraca perdagangan Indonesia dan berdampak pada pertumbuhan ekonomi, ujarnya.
/2025/07/29/1849039643.jpg)
/2021/11/18/1612827877.jpg)
/2023/07/27/1172885582.jpg)
/2024/10/03/816049894.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/976572/original/043059500_1441279137-harga-emas-4.jpg)

/2025/11/27/1262603760.jpg)





:strip_icc()/kly-media-production/medias/3354469/original/046829100_1611133736-20210120-PERTUMBUHAN-UANG-BEREDAR-2.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4803210/original/041541900_1713259102-20240416-Pelemahan_Mata_Uang_Rupiah-MER_1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3211514/original/040779700_1597690121-Foto_Bank_Mandiri.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4132711/original/011923100_1661233218-Penukaran-Uang-Baru-Faizal-1.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/3172732/original/048313800_1594117392-20200707-Harga-Emas-Pegadaian-Naik-Rp-4.000-7.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/1223093/original/001717500_1462280591-20160503-Pasar--Inflasi-Masih-Terkendali-Hingga-Juni-Jakarta-Angga-Yuniar-01.jpg)
:strip_icc()/kly-media-production/medias/4261962/original/044473000_1671083484-harga_telur_ayam_di_tingkat_peternak_mencapai_29_ribu-ARBAS_6.jpg)