Jakarta – Calon Gubernur Bank Indonesia (BI) Destry Damayanti mengatakan, BI perlu menyeimbangkan stabilitas rupiah dan pertumbuhan ekonomi melalui bauran kebijakan, bukan hanya mengandalkan suku bunga.
Ia menilai, kondisi ekonomi global yang tidak biasa membuat kebijakan moneter saja tidak cukup untuk menjaga stabilitas sekaligus mendorong pertumbuhan.
BACA JUGA:Aida S Budiman Tegaskan Stabilitas Fiskal-Moneter Sejalan Buat Pertumbuhan Ekonomi
BACA JUGA:Aida S Budiman Bawa 8 Program Buat Jadi Deputi Gubernur Senior BI
Stabilisasi tidak bisa kita hanya capai dari kebijakan moneter. Makanya kita menggunakan bauran kebijakan Bank Indonesia,” kata Destry dalam fit and proper test calon Gubernur BI di DPR RI, Rabu (26/8/2026).
Destry menjelaskan BI menggunakan kebijakan moneter, makroprudensial, sistem pembayaran, serta kebijakan pendukung berupa pendalaman pasar uang dan pasar valuta asing (valas). Ia menilai pendalaman pasar diperlukan karena target pertumbuhan ekonomi yang tinggi membutuhkan sumber pembiayaan yang besar.
Destry mencatat transaksi pasar uang meningkat sekitar 6 kali lipat sepanjang 2020-2026, sedangkan transaksi pasar valas meningkat sekitar 3 kali lipat. Ia menyebut transaksi valas saat ini mencapai sekitar US$ 12 miliar per hari, dari sekitar US$ 3-4 miliar per hari pada 2020.
Makin dalam pasarnya, maka stabilitas rupiah juga akan makin terjaga dan sumber pembiayaan untuk pembangunan juga akan makin bisa kita dorong, ujar dia.
Destry mengatakan, BI tidak menaikkan BI Rate secara otomatis ketika tekanan terhadap rupiah meningkat. Ia menjelaskan BI mempertimbangkan kondisi pertumbuhan ekonomi yang masih berada di bawah tingkat potensial.
Destry mengatakan, BI memilih menggunakan kebijakan pendalaman pasar uang dan valas melalui insentif serta biaya lindung nilai atau hedging yang lebih murah. Kebijakan tersebut mendorong arus modal masuk dan menambah pasokan valas di pasar melalui instrumen seperti SRBI dan SBN.

/2025/07/21/1175384252.jpg)
/2025/04/14/956337575.jpg)
/2024/08/18/651146491.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/2922918/original/005670200_1569486698-kristalina.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/6998573/original/053700600_1779768852-AP26142839887177.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4178553/original/009309300_1664767985-Screenshot_2022-10-03-11-05-23-095_com.google.android.youtube.jpg)
:strip_icc():format(webp):watermark(kly-media-production/assets/images/watermarks/liputan6/watermark-color-landscape-new.png,1180,20,0)/kly-media-production/medias/4568686/original/024865800_1694173490-Kabut_Asap_Bandara_Syamsudin_Noor_2.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4838233/original/057874200_1716263381-AP24141612292346.jpg)




:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4089307/original/075313700_1657837181-Harga_Emas_Hari_Ini.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/3532289/original/028365400_1628161488-20210805-Harga-emas-alami-penurunan-ANGGA-4.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5472766/original/082116700_1768375313-1.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4805343/original/080058200_1713432003-20240418-Kenaikan_Harga_Emas-HER_5.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/9309009/original/092642800_1785214589-ChatGPT_Image_Jul_28__2026__11_55_43_AM.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5028254/original/041675300_1732871304-fotor-ai-2024112916726.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4750922/original/000470300_1708667884-WhatsApp_Image_2024-02-22_at_16.29.58__1_.jpeg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/5302024/original/069793300_1753969621-Gemini_Generated_Image_9sncvd9sncvd9snc.jpg)
:strip_icc():format(webp)/kly-media-production/medias/4527216/original/053880700_1691248902-Kripto_9.jpg)